Rabu, 07 November 2018

MERAWAT OPTIMISME KAUM MUDA. Mulai Dari Desa

MERAWAT OPTIMISME KAUM MUDA
Mulai Dari Desa  


Tulisan ini aku persembahkan untuk seluruh kawan-kawan pemuda Desa Bumi Pajo, Donggo, Bima. Semoga semangat perjuangan kita tetap terjaga dalam merawat Desa tercinta.




"Beri aku seratus orang tua, akan aku cabut semeru dari akar-akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, akan aku guncangkan dunia."
Begitu kiranya ukangkapan yang dilontarkan oleh sang orator ulung, Bung Karno, yang sanggup membuat merinding ketika membacanya kembali. Begitu penting peranan kaum muda dalam perkembangan dunia, jika dimaknai lebih dalam ungkapan di atas.

Sejarah panjang Bangsa Indonesia tidak lepas dari peran kaum muda, pertikaian dengan golongan tua yang berujung dengan penculikan Soekarno, atau dikenal dengan peristiwa rengasdengklok, menjadi awal berdirinya Bangsa Indonesia.

Perjalanan Bangsa terus dikawal oleh pemuda yang menyadari tanggungjawabnya sebagai agen bagi perubahan, yang melahirkan sejarah baru, penggulingan rezim tangan besi, si diktator bernama Soeharto yang kita kenal dengan gerakan revolusi. Berlandaskan leadaan Negara yang carut marut akibat Kolusi, Korupsi, Nepotisme, dan pelanggaran HAM terbesar di dunia, menjadikan akhir dari kekuasaan rezim tangan besi tersebut.

Sejarah di atas menjadi bukti, bahwa peran kaum muda layak diperhitungkan dalam membangun sebuah Bangsa, pemuda kekinian harus memiliki rasa malu terhadap sejarah yang pernah ada, sejarah tidak boleh dibiarkan hanya sebagai catatan usang dalam di museum-museum pustaka. Sejarah harus menjadi bahan pelajaran sekaligus memacu semangat agar semangat perjuangan sejarah dapat diwarisi oleh kaum muda. Kaum muda harus menanamkan rasa malu membiarkan kesewenangan yang terjadi. Sebaliknya gelora perjuangan harus tetap dikibarkan.

Tidak mesti menggulingkan rezim yang berkuasa layaknya pemuda 98, kita memulai dari bagian terkecil yaitu lingkungan sekitar. Desa, contohnya.

Fenomena kesewenangan terjadi bukan hanya di tataran tertinggi Negara, skala Desa saja sudah menjadi ladang empuk bagi kesewenangan penguasa, tidak perlu diurai panjang lebar kesewenangan-kesewenangan yang dilakukan, kita dapat melihatnya sendiri di Desa-Desa tempat kita hidup. Kasus korupsi Dana Desa yang menjerat ratusan kepala Desa menjadi bukti kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh penguasa. Selebihnya hal-hal normatif yang menyangkut hajat hidup masyarakat desa tidak pernah lepas dari kesewenangan-kesewenangan dan penyimpangan-penyimpangan pemerintah, khususnya pemerintah Desa.

Kaum muda tidak boleh diam dan manut melihat hal tersebut, fungsi sebagai pengontrol harus dijalankan sebagaimana mestinya, penyimpangan tidak boleh dibiarkan menjadi-jadi untuk menciptakan kehidupan sosial yang adil dan merata. 

Pengawalan terhadap seluruh kebijakan yang ditelurkan oleh pemerintah, contohnya program bedah rumah, pembibitan hewan, pembagian benih-benih pertanian, dan lain-lain yang menjadi kebijakan harus dijalankan secara intens agar tidak terjadinya penyelewangan, karena dalam setiap proyek, pasti ada saja yang ingin mengambil yamg bukan hak milik hanya untuk memenuhi hastrat kelayaan pribadi.

Pemuda yang merupakan pioner diharapkan dapat menjadi penyambung lidah bagi masyarakat, termasuk masyarakat Desa. Perstuan pemuda menjadi tumpuan kekuatan utama dalam pelaksanaan fungsinya, penyatuan persepsi terhadap hal-hal pokok yang sifatnya normatif adalah keharusan untuk mencapai tujuan bersama.
Ibarat lidi, jika hanya satu lidi, hanya dijadikan tusuk gigi, tapi jika digabung dalam satu ikatan, maka dia akan membersihkan sampah apapun. Begitulah analogi sederhananya. 

Harapan besar masyarakat, pemuda menjadi jembatan yang dapat menjadi penyampai sekaligus pejuang bagi segala keluh kesahnya.

Salam hormat untuk kaum muda..
Fhendy_Bhabo


Rabu, 15 Agustus 2018

LUKA PENINGGALAN

LUKA PENINGGALAN

Perlahan sepoi tiba di jendelaku
Menghantar syahdu pada titik lara
Matahari sore yang sedang melukis jingga di tepi langit juga beranjak pergi, mungkin lelah

Aku menyalakan sebatang lilin yang tersisa di laci meja
Perlahan gemericik menghampiri jendela yang tak lagi bercahaya
Kenangan menggenangi seluruh ruang di kepala dan batinku
Kau kembali menjelma dalam pancaran cahaya lilin

Selembar kertas berpita merah muda tergeletak di atas tempat tidur
Indah dengan simpul yang membentuk hati
Dengan getar, aku tarik salah satu ujung simpulnya
Diana.....

Di belakangnya ada secarik kertas berbeda rupa dengan tulisan tangan
Akuh hafal itu bentuk tulisan siapa
Rupanya kau meminta aku merelakan kau yang berpindah hati
Memohon restu menikah dengan anak kepala desa

Seketika gerimis berpindah ke pipi-pipiku
Di kelopak mataku tumbuh air terjun yang begitu menderu
Sebagai luapan dari hati yang berserakan sebab ulahmu
Kau hancurkan istana megah yang aku siapkan  hanya untukmu

Pada resepsi pernikahanmu
Aku datang menjadi saksi atas bahagia milikmu
Kau merayakan bahagia
Aku merayakan kecewa

Beribu jabat memberimu selamat
Selamat untuk hatimu yang tertambat
Biarkan aku kembali merawat luka
Menyusun kembali hati yang penuh nelangsa

Semoga bahagia mendampingimu juga
Semoga rasaku kini tak menerpamu
Sebab kau terlalu rapuh untuk terluka

Nanti, bila dalam mahligai tak kau temui bahagia
Berhati-hatilah
Sebab dia bukan aku yang selalu siap penjadi pelarian saat kau terluka

Tanah Sasak
 09 Agustus 2018
 Fhendy_Bhabo


TANGGUH MENCINTA

TANGGUH MENCINTA

Matahari petang benar-benar pulang pada pangkuan langit
Temaram lampu-lampu kota menghias malam penuh jerit
Ingatan kembali bermukim di kepala yang ingin melupa
Merobek kembali jahitan-jahitan luka lama

Diantara beribu kelip gemintang, kau menyala sebagai satu-satunya kerinduan
Terbaca lagi jalan-jalan panjang dan segala tawa yang kini tak ubahnya sebatas kenangan
Sepoi hembus angin malam menempatkan sepi pada relung hati penuh nelangsa
Lalu sederas air terjun di bibir netra

Sekuat apapun aku menghapus kenang, sekuat itu pula rinduku menjadikanmu peran utama
Seulet apapun aku mencari jalan baru, sebanyak itu pula rindu menghantarku pada masa silam
Setegar apapun aku coba bangkit, setangguh itu pula cinta menjatuhkanku padamu yang tak pandai membalas
Sejauh apapun berlari, cinta selalu menuntunku membali
Meski segenap rasaku hanya berakhir pada kehampaan

Dari segala itu, aku belajar bagaimana mencintai
Tanpa engkau kembalipun
Cintaku takkan pernah berajak
Jatuh berulang-ulangpun akan aku nikmati sebagai resiko mencintaimu...

Mataram,
04 Agustus 2018
Fhendy_Bhabo

KARMA 2

KARMA 2

Rinai air mata membekas di pipi
Luka memancarkan cahaya di bola matamu yang merah
Tersedu meminta iba padaku yang hina
Orang kampung tak bermasa depan

Terekam jalas di ubunku,
Kata-kata yang setajam belati
Menikam tepat di ulu hati

Kau memohon berbalik ke masa lalu
Setelah harapan kau patahkan
Ingin merintis jalan baru
Setelah langkah kau hentikan

Lukaku belum berhenti melantunkan perih
Patahannya tak dapat kembali rekat
Terendus aroma kebencian merawatnya
Dibalut dendam sehangat perih yang abadi

Bukankah kepergiamu aku tangisi dalam kesendirian?
Percayalah,
Berpura tertawa agar telihat baik-baik saja tidak pernah mudah
Memekarkan senyum di tengah kepedihan tak semanis meneguk madu

Huh
Tlah kau sia-siakan hati yang dengan utuh menjadikanmu pemilik tunggal
Tlah kau pupuskan harapan yang bersemangat membina
Tlah kau hianati seberkas rasa bernama percaya
Yang kau tinggal hanyalah segudang kecewa

Untuk apa bebalik
Hatiku bukan terminal tempat kau singgah untuk menuju tujuan baru
Biarkan yang ingin mentap untuk mengisi

Jangan takut sendiri
Ada karma yang menemanimu
Semoga kau sadar, gelas pecah tak mungkin untuh kembali

Tanah Sasak
09 Agustus 2018
Fhendy_Bhabo

KARMA 1

KARMA 1

Jantung memompa darah lebih cepat dari biasanya
Paru-paru membakar napas lebih hangat dari bara
Hati berbinar-binar lebih cerah dari sekedar merah muda
Sebab, datangmu menyemai benih-benih cinta

Terjagaku siang dan malam merawat cinta yang perlahan tumbuh di dada
Tak pernah kubiarkan baterai ponselku melemah apalagi kehabisan daya
Berharap esok subuh kabar darimu dapat kuterima
Detik demi detik aku luangkan untuk menanti pesan singkatmu meski sekedar bertanya aku sedang apa

Tiba-tiba, setelah puluhan purnama berlalu
Aku mendengar kabar paling duka yang tak dapat hatiku terima
Begitu angkuh kau bermadu kasih dengan seorang bintara

Jantung berhenti berdegup, paru-paru berhenti menghembus, dan hati remuk berserakan terpukul kecewa
Berhari-hari aku mendekap dalam jeruji lara
Menggigil di tengah terik yang membakar hingga mata lak lagi sanggup menatap dunia
Semua orang menertawai menganggap aku gila

Lalu, setelah sekian lama
Dengan terseok-seok aku mencoba beridiri meski jantung tak lagi memompa
Mencoba benapas kembali dengan paru-paru penuh luka
Menyusun kembali hati yang penuh nelangsa

Kau perlahan aku pudarkan meski tak semua
Sisa-sisa dirimu tertinggal meski hanya nama
Menjadi pertanda, agar tak salah jatuh cinta

Setelah aku hampir melupa
Kau datang dengan pipi yang ternodai air mata
Tak tau tempat mengadu akan duka lara yang kau derita
Kau dicampakkan oleh bintara yang dulunya kau puja

Perlahan airmatamu kuseka
Tambah kau tersedu di pundak yang pernah kau hina
Tangismu pecah tak lagi sanggup menanggung derita
Tuhan memberlakukan peraturan bernama,
Karma

Tanah sasak,
30 Juni 2018
Fhendy_Bhabo

KARMA 3

KARMA 3

Pernah aku ingin sekali memiliki
Pernah aku mati-matian memperjuangkan untuk hidup bersama dalam mahligai
Pernah juga aku bertahan menunggu meski tak pernah pasti
Namun tak jua aku kau inginkan miliki

Pada akhirnya kamu yang ingin pergi
Aku biarkan meski tersakiti
Aku ikhlaskan meski aku kau lukai
Karena bahagiamu adalah segalanya meski aku tak kau bagi

Kini kau berbalik pada yang dulu kau jauhi
Setelah tempatmu terganti
Saat dirimu terhapus dari hati
Setelah segala tulus kau hianati

Maaf tak lebih dari pil penenang sesaat bagi luka yang tersayat kembali
Segala yang pecah tak mungkin utuh lagi
Tentangmu yang tersisa hanya perih yang abadi

Maaf, tak ada tempatmu kembali
Aku tak ingin jatuh pada jurang yang sama lagi
Segala yang berlalu biarkan pergi
Tak ada guna kau sesali
Karma akan mengajarimu arti

Tanah Sasak
13 Agustus 2018
Fhendy_Bhabo

Selasa, 14 Agustus 2018

Pemuda Dalam Pengawalam Dana Desa

Seperti yang di ketahui, dana yang dikucurkan untuk pembangunan memiliki nilai yang fantasti, Rp. 1M bukanlah jumlah yang kecil. Dengan jumlah yang sebanyak itu, orang-orang berlomba menarik simpati masyarakat dalam suatu desa untuk memilihnya menjadi kepala desa dengan harapan dapat mengelola  uang dengan jumlah yang sangat besar tersebut. Tidak jarang pula yang berakhir di balik jeruji besi lantaran penyalahgunaan anggaran tersebut. Buktinya kurang lebih 900 ratus kepala desa tertangkap KPK lantaran penyelewengan dana desa (m.merdeka.com). Tidak bisa dipungkiri, uang menjadi Tuhan bagi sebagian orang.

Hal tersebut semakin menambah jumlah kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, membuat masyarak merasa gusar melihat keadaan yang carut marut tersebut.
Tidak hanya itu, pengelolaan anggaran dana desa kerap tidak tepat sasaran, banyak kepentingan pribadi yang lebih di utamakan dibanding kebutuhan masyarakat pada umumnya. Contoh kecilnya adalah pemberian bantuan yang semisalnya bedah rumah, sering kali pemerintah desa lebih mengutamakan keluarga yang lebih mampu, padahal masih ada yang kurang mampu hanya karena faktor kekeluargaan atau karena tidak faktor politik. Siapa yang memilihnya, dialah yang diutamakan.

Tak jarang pula kepala desa yang kaya mendadak ketika menjabat, padahal jika ditelusuri, gajinya jauh lebih kecil dari peningkatan kekayaannya, entah uang siluman darimana lalu akhirnya mendekap di balik jeruji.

Pengawalan kebijakan pengelolaan anggarana tidak hanya dapat dilihat dari pelaporan administrasi semata, sebab administrasi sangat mudah di manipulasi, sering kita jumpai laporang yang dibuat tak sesuai dengan realisasinya, pengawalan harus mengecek kondisi lapangan secara langsung. Pembangunan infrastrukur desa haruslah sesuai dengan besaran anggaran yang dikucurkan, jangan sampai banyak anggaran yang malah nyangkut di kantong-kantong pribadi orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Melihat hal tersebut, kaum muda tidak boleh hanya duduk berpangku tangan. Karena pemuda adala tonggak berdirinya suatu bangsa, maka dalam hal ini pemuda juga harus berperan aktif dalam mengawasi pengelolaan anggaran dana desa. Karena orang-renta yang selalu mengamini apa kata pemerintah tidak dapat diandalkan untuk mengawasi hal tersebut. Jiwa muda harus dibiasakan untuk berpikir kritis dalam mengawal pembangunan desa demi terwujudnya pembangunan yang memberikan kesejahteraan.

Mari belajar dan berdiskusi lalu berjuang.
Salam persatuan.

Senin, 13 Agustus 2018

KAUM MUDA DALAM PEMBANGUNAN DES

KAUM MUDA DALAM PEMBANGUNAN DESA


Oleh : Fhendy_Bhabo

Kaum muda adalah aset yang paling berharga bagi negara. Semangat yang menggelora dalam jiwa muda menjadikannya sebagai aset bagi bangsa. Maka dari itu, pemuda harus mengambil peran dalam memajukan peradaban. Pengambilan peran dimulai dari hal-hal kecil yang akan berperngaruh besar dalam kehidupan bermasyarakat. Pembangunan desa contohnya, sebagai aset yang dimilik bangsa, pemuda harus terlibat aktif dalam pembangunan itu sendiri, pembangunan yang dimaksud tidak semata mendirikan suata bangunan infrastruktur, pembangunan yang dimaksud adalah pembangunan kehidupan sosial yang berkeadilan.

Sebagai agen perubahan, pemuda harus mampu   mengawal perkembangan desa, termasuk mrngontrol segala bentuk regulasi yang ditelurkan oleh pemerintah desa. Segala hal harus dilihat asas kebermanfaatannya bagi seluruh masyarakat yang ada di desa tersebut. Mulai dari pembangunan infrastruktur, pembagian subsidi hingga mengawal pembagian kekuasaan tingkat desa.
Kita mengambil sampel dari pengelolaan aggaran yang kurang lebih Rp.1 M, kemanakah arah pengelolaan anggaran tersebut misalanya, apakah dalam pelaksanaanya sudah tepat sasaran atau hanya mengarah pada golongan tertentu saja. Pemerintah desa tidak bole anti terhadap kritikan kaum muda, sebab ia ada untuk melayani dan mengayomi masyarakatnya.

Dalam pembagunan karakter masyarakat yang madani, pemuda tidak boleh lepas tangan, perkembangan globalisasi yang telah merenggut khasanah pedesaan tidak boleh dipandang sebelah mata, ini adalah hama yang dapat merusak kultru desa yang cirinya sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Dalam fenomena kekiniannya, desa tidak lagi memegang pada ciri khasnya dengan nilai-nilai kedesaannya. Gotong royong mulai hilang dari kehidupan bermasyarakat, coba trek kembali ke beberapa tahun silam, betapa indah nuansa desa yang setiap ada hajatan, segala kepentingan pribadi di kesampingkan demi gotong royong dan solidaritas.

Dalam mengawal terciptanya generasi yang berkemajuan. Kaum muda apalagi yang telah menempuh pendidikan, perannya samgat penting dalam mengawal tumbuh keimbangnya generasi, pengaruh perkembangan zaman yang menciptakan masyarakat gadget, menjadikan anak bangsa sangar mudah mengakses segala hal. Tidak jarang yang terjerumus dalam bebasnya pergaulan. Narkoba menjadi hal yang lumrah bagi generasi kekinian, tak jarang yang kecanduan obat terlarang hingga akhirnya mendekam di balik jeruji besi.
Sopam santun dalam berkehidupan sosial tidak lagi menjadi hal utama, yang tak menyayangi yang muda, yang muda tak menghormati yang tua, sehingga tak jarang perkelahian, pertentangan terjadi akibat tidak adanya rasa saling menyayangi dan menghargai antar sesama. Disini kita tidak menyalahkan zaman, tapi bagaimana menyikapi perkembangan zaman tersebut. Pendidikan spiritual menjadi hal yang penting untuk menjaga moral bangsa.

Dalam mempersatukan narasi. Pemuda harus mengutakan kesaamaan visi demi kemajuan, menyampingkan ego masing-masing individu untuk mengedepankan nilai-nilai kebersamaan adalah hal mutlak yang mesti diutamakan dan di kerjakan dengan segera oleh kaum muda, analoginya, lidi harus disatukan dalam satu ikatan yang erat untuk dapat digunakan sebagai sapu untuk membersihkan sampah. Begitulah harusnya kaum muda, mempersatukan diri dengan seluruh kaum muda untuk sama-sama bekerja mewujudkan kehidupan desa yang madani.

Organisasi desa, misalnya karang taruna, dapat digunakan sebagai alat persatuan untuk mewujudkan hal-hal di atas. Pemuda harus belajar miniatur kehidupan berbangsa dalam suatu organisasi, dimana kebersamaan adalah hal yang utama.  Kemandirian ekonomi, bahkan lapangan kerja dapat diciptakan dengan membangun ekonomi mandiri organisasi demi tercapainya tujuan bersama.

Kesimpulannya, pemuda tidak boleh berdiam diri melihat realita sosial yang terjadi, pemuda harus mengambil peran dalam memajukan kehidupam sosial. Bersatulah, diskusikan langkah-langkah untuk menyelesaikan segala persoalan, dan bertindaklah sesegera mungkin.

SALAM PERSATUAN

Senin, 09 April 2018

PERGESERAN PARADIGMA KAUM INTELEKTUAL TERHADAP KATA SUKSES

PERGESERAN PARADIGMA KAUM INTELEKTUAL TERHADAP KATA SUKSES
Oleh : Fhendy Bhabo

Kaum intelektual adalah kaum dengan posisi strategis yang memiliki nilai tawar tinggi dikarenakan dia berada di antara pemerintah dengan dan rakyat. Pada hakikatnya kaum intelektual adalah penyambung lidah rakyat kepada pemerintah, artinya kaum intelektual bertanggung jawab atas segala persoalan yang terjadi di lingkungan sosialnya.

Sungguh ironis melihat dinamika kaum intelek masa kini, perannya bukan lagi sebagai penyambung lidah raktyat, lupa apa tanggung jawab sebagai kaum intelek itu sendiri.

Kata "sukses" hanya diartikan denga gelar, penghasilan melimpah, kehidupan mewah, meski harus menjula idelalisme yang sangat erat dengan kaum intelek.
Kebebarannya lihat dinamika kaum intelek zaman milenia ini, sangat sedikit kaum intelek yang mau bekerja untuk menjamin terwujudnya kondisi sosial yang sejahtera secara ekonomi, demokrasi secara politik, adil secara sosial, dan partisipatif secara budaya. Lihat saja di desa-desa, coba tanyakan berapa banyak kaum intelktual yang lahir di desa-desa tersebut dan berapa banyak pula kaum intelektual yang mengabdikan diri untuk kemajuan desa tersebut. Sangat banyak namu sangat sedikit yang mengabdikan dirj demi kejuan desa tersebut.

Seperti yang dikatakan diatas, kata sukses hanya diukur dengan kemapan hidup pribadi, bahkan menjual idealisme lalu percaya bahwa melibatkan diri dalam politik borjuasi yang membodohi demi mendapatkan kemapanan pribadi.

Segala persoalan yang terjadi di desa-desa, semisal perampasan tanah rakyat, prifatisasi aset desa, kecurangan yang dilakukan oleh pemerintah desa dianggap benar dan satu keniscayan. Bahkan ilmu yang dimiliki dijadikan alat untuk membela kaum ber-uang yang merampas tanah rakyat, meprivatisasi aset desa, kecurangan pihak desa.

Kaum intelektual lupa dari mana dia berasal, siapa yang menjadikan dia berilmu, sehingga kaum intelek hanya dianggao sampah bagi masyarakat.

Tulisan ini bukan menghakimi satu pihakpun, dengan tulisan ini besar harapannya agar menrefleksikan diri akan pengabdian sebagai kaum intelek terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Kaum intelek harus mampu menjadi pelita bagi masyarakat yang dihadapkan dengan pemiskinan, pembodohan yang begitu akut dibawah kuasa pemimpin yang dzalim.

Sukses jangan selalu diukur dengan kemapan hidup pribadi semata, sebagai kaum intelek, sudah seharusnya menjawab segala persolana masyarakat hari ini.

"Sukses itu ketika mampu mengabdikan diri untuk membela rakyat banyak"

Salam damai
Fhendy Bhabo

Rabu, 04 April 2018

Sumber Air Yang Kering

Bismillah...

Kali ini saya ingin sedikit mengupas tentang Desa Bumi Pajo.
Seperti yang pernah dikisahkan oleh saudara, lebih tepatnya kakanda Aksan Al Bimawi pada tulisannya beberapa waktu yang lalu, Bumi Pajo merupakan Negeri di atas awan yang terletak di kecamatan Donggo Kabupaten Bima NTB.
Secara geografis Bumi Pajo merupakan dataran dengan ketinggian 1200-1500 MDPL sehingga terkadang kita dapat menikmati kesejukan embun pagi serta hiasan awan yang menyambangi perkampungan. Saya pikir hal itulah yang menjadi dasar kakanda Aksan Al Bimawi mengatakan ini adalah Negeri di atas awan.

Namun pada tulisan saya, saya tidak akan membahas kembali kecantikan Desa Bumi Pajo. Padatulisan ini saya ingin menyampaikan hal yang sampai hari ini belum mendaoatkan titik terang bagi warga desa.
Dengan curah hujan yang tinggi dan hutan yang masih hijau du sekitar permukiman warga, Desa Bumi Pajo tentunya memiliki sumber air yang melimpah. Hanya saja untuk mengalirkan air sampai ke rumah-rumah perlu perjuangan panjang. Berkat perjuangan panjang pula warga Desa Bumi Pajo yang dulunya hanya dapat memperoleh air bersih dari satu bak umum di masing-masing dusunya, kini mendapat pasokan air bersih di masing-masing rumah. Bahkan kini air didapatkan secara gratis.

Sayangnya, beberapa Desa lain sekitaran tidak mengalami perkembangan dalam penyaluran air bersih seperti di desa Bumi Pajo.
Hingga pada awal 2018 berdasarkan dalil wakaf Al-Qur'an terjalin kerjasama antara Bumi pajo bersama desa sekitaran untuk membagi air bersih. Sungguh arif dan bijaksana pemerintah Desa Bumi Pajo, karena memang Bumi, Air dan Kekayaan lainnya digunakan sebaik-baiknya demi kesejahteraan Bangsa. (Pasal 33).

Masalanya, pembagian air dengan cara mengambil air dari penampungan utama Desa Bumi Pajo dengan pipa yang berbeda tidak pernah diperhitungan secara matang apa efek negatif yang sekiranya dapat di timbulkan. Dalam ilmu mekanika fluida, jika tempat B lebih rendah dari tempat A, maka fluida akan mengalir kebih deras menuju tempat B. Itulah yang sekarang menimpa Negeri di atasa awan tersebut.
Setelah adanya pembagian air tersebut, justru warga Desa Bumi Pajo yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Bahkan untuk keperluan minum, wudhu dan mck. Saya sendiri pernah mendengarkan langsung keluhan dari warga Dusun Padende saat silaturrahmi dengan Karang Taruna Bumi Pajo, bahwasannya untuk wudhupun kami merasakan kesulitan, keran air di rumah-rumah warga mati.

Kesulitan dalam memperoleh air tersebut bukannya tidak pernah didengar oleh pemerintah Desa, hal itupun pernah di ajukan dalam audiensi antara karang taruna denga pemerintah desa, namun lagi-lagi menemukan jalan buntu.

Tulisan ini bukan untuk mengecam pembagian air dari Desa Bumi Pajo dengan Desa sekitaran, justru penulis mengacungkan jempol untuk tindakan tersebut. Hanya saja perlu dievaluasi sistem penyalurannya agar tidak ada pihak yang dirugikan baik dari Desa Bumi Pajo sebagai sumber maupun Desa sekitaran.

Pembagian air harus dilakukan dengan memperhatikan efek yang akan ditimbulkan. Pembagian air ini harus dilakaukan di sumber mata air, yang artinya ada dua pipa sumber dan penampungan utama. Sehingga semua Desa tidak akan mengalami kekurangan pasokan air. Sebab sungai sebagai sumber air tidak akan kering selama masi ada hutan dan hujan.

Harapannya pemerintah bersama dengan seluruh elemen masyarakat dapat mengevaluasi sistem pembagian air Desa Bumi Pajo sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terpenuhi.

Salam damai.

Sabtu, 03 Maret 2018

Aku ingin menjadi lilin

AKU INGIN MENJADI LILIN

Aku ingin menjadi lilin
Menghagatkan malammu yang beku.
Menerangi sepimu yang pekat.
Membakar seluruh tubuhku demi nikmat senyummu,

Lalu mati di tidurmu...


Mataram,
28 Februari 2018
Fhendy_Bhabo