PERGESERAN PARADIGMA KAUM INTELEKTUAL TERHADAP KATA SUKSES
Oleh : Fhendy Bhabo
Kaum intelektual adalah kaum dengan posisi strategis yang memiliki nilai tawar tinggi dikarenakan dia berada di antara pemerintah dengan dan rakyat. Pada hakikatnya kaum intelektual adalah penyambung lidah rakyat kepada pemerintah, artinya kaum intelektual bertanggung jawab atas segala persoalan yang terjadi di lingkungan sosialnya.
Sungguh ironis melihat dinamika kaum intelek masa kini, perannya bukan lagi sebagai penyambung lidah raktyat, lupa apa tanggung jawab sebagai kaum intelek itu sendiri.
Kata "sukses" hanya diartikan denga gelar, penghasilan melimpah, kehidupan mewah, meski harus menjula idelalisme yang sangat erat dengan kaum intelek.
Kebebarannya lihat dinamika kaum intelek zaman milenia ini, sangat sedikit kaum intelek yang mau bekerja untuk menjamin terwujudnya kondisi sosial yang sejahtera secara ekonomi, demokrasi secara politik, adil secara sosial, dan partisipatif secara budaya. Lihat saja di desa-desa, coba tanyakan berapa banyak kaum intelktual yang lahir di desa-desa tersebut dan berapa banyak pula kaum intelektual yang mengabdikan diri untuk kemajuan desa tersebut. Sangat banyak namu sangat sedikit yang mengabdikan dirj demi kejuan desa tersebut.
Seperti yang dikatakan diatas, kata sukses hanya diukur dengan kemapan hidup pribadi, bahkan menjual idealisme lalu percaya bahwa melibatkan diri dalam politik borjuasi yang membodohi demi mendapatkan kemapanan pribadi.
Segala persoalan yang terjadi di desa-desa, semisal perampasan tanah rakyat, prifatisasi aset desa, kecurangan yang dilakukan oleh pemerintah desa dianggap benar dan satu keniscayan. Bahkan ilmu yang dimiliki dijadikan alat untuk membela kaum ber-uang yang merampas tanah rakyat, meprivatisasi aset desa, kecurangan pihak desa.
Kaum intelektual lupa dari mana dia berasal, siapa yang menjadikan dia berilmu, sehingga kaum intelek hanya dianggao sampah bagi masyarakat.
Tulisan ini bukan menghakimi satu pihakpun, dengan tulisan ini besar harapannya agar menrefleksikan diri akan pengabdian sebagai kaum intelek terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Kaum intelek harus mampu menjadi pelita bagi masyarakat yang dihadapkan dengan pemiskinan, pembodohan yang begitu akut dibawah kuasa pemimpin yang dzalim.
Sukses jangan selalu diukur dengan kemapan hidup pribadi semata, sebagai kaum intelek, sudah seharusnya menjawab segala persolana masyarakat hari ini.
"Sukses itu ketika mampu mengabdikan diri untuk membela rakyat banyak"
Salam damai
Fhendy Bhabo
Senin, 09 April 2018
Rabu, 04 April 2018
Sumber Air Yang Kering
Bismillah...
Kali ini saya ingin sedikit mengupas tentang Desa Bumi Pajo.
Seperti yang pernah dikisahkan oleh saudara, lebih tepatnya kakanda Aksan Al Bimawi pada tulisannya beberapa waktu yang lalu, Bumi Pajo merupakan Negeri di atas awan yang terletak di kecamatan Donggo Kabupaten Bima NTB.
Secara geografis Bumi Pajo merupakan dataran dengan ketinggian 1200-1500 MDPL sehingga terkadang kita dapat menikmati kesejukan embun pagi serta hiasan awan yang menyambangi perkampungan. Saya pikir hal itulah yang menjadi dasar kakanda Aksan Al Bimawi mengatakan ini adalah Negeri di atas awan.
Namun pada tulisan saya, saya tidak akan membahas kembali kecantikan Desa Bumi Pajo. Padatulisan ini saya ingin menyampaikan hal yang sampai hari ini belum mendaoatkan titik terang bagi warga desa.
Dengan curah hujan yang tinggi dan hutan yang masih hijau du sekitar permukiman warga, Desa Bumi Pajo tentunya memiliki sumber air yang melimpah. Hanya saja untuk mengalirkan air sampai ke rumah-rumah perlu perjuangan panjang. Berkat perjuangan panjang pula warga Desa Bumi Pajo yang dulunya hanya dapat memperoleh air bersih dari satu bak umum di masing-masing dusunya, kini mendapat pasokan air bersih di masing-masing rumah. Bahkan kini air didapatkan secara gratis.
Sayangnya, beberapa Desa lain sekitaran tidak mengalami perkembangan dalam penyaluran air bersih seperti di desa Bumi Pajo.
Hingga pada awal 2018 berdasarkan dalil wakaf Al-Qur'an terjalin kerjasama antara Bumi pajo bersama desa sekitaran untuk membagi air bersih. Sungguh arif dan bijaksana pemerintah Desa Bumi Pajo, karena memang Bumi, Air dan Kekayaan lainnya digunakan sebaik-baiknya demi kesejahteraan Bangsa. (Pasal 33).
Masalanya, pembagian air dengan cara mengambil air dari penampungan utama Desa Bumi Pajo dengan pipa yang berbeda tidak pernah diperhitungan secara matang apa efek negatif yang sekiranya dapat di timbulkan. Dalam ilmu mekanika fluida, jika tempat B lebih rendah dari tempat A, maka fluida akan mengalir kebih deras menuju tempat B. Itulah yang sekarang menimpa Negeri di atasa awan tersebut.
Setelah adanya pembagian air tersebut, justru warga Desa Bumi Pajo yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Bahkan untuk keperluan minum, wudhu dan mck. Saya sendiri pernah mendengarkan langsung keluhan dari warga Dusun Padende saat silaturrahmi dengan Karang Taruna Bumi Pajo, bahwasannya untuk wudhupun kami merasakan kesulitan, keran air di rumah-rumah warga mati.
Kesulitan dalam memperoleh air tersebut bukannya tidak pernah didengar oleh pemerintah Desa, hal itupun pernah di ajukan dalam audiensi antara karang taruna denga pemerintah desa, namun lagi-lagi menemukan jalan buntu.
Tulisan ini bukan untuk mengecam pembagian air dari Desa Bumi Pajo dengan Desa sekitaran, justru penulis mengacungkan jempol untuk tindakan tersebut. Hanya saja perlu dievaluasi sistem penyalurannya agar tidak ada pihak yang dirugikan baik dari Desa Bumi Pajo sebagai sumber maupun Desa sekitaran.
Pembagian air harus dilakukan dengan memperhatikan efek yang akan ditimbulkan. Pembagian air ini harus dilakaukan di sumber mata air, yang artinya ada dua pipa sumber dan penampungan utama. Sehingga semua Desa tidak akan mengalami kekurangan pasokan air. Sebab sungai sebagai sumber air tidak akan kering selama masi ada hutan dan hujan.
Harapannya pemerintah bersama dengan seluruh elemen masyarakat dapat mengevaluasi sistem pembagian air Desa Bumi Pajo sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terpenuhi.
Salam damai.
Kali ini saya ingin sedikit mengupas tentang Desa Bumi Pajo.
Seperti yang pernah dikisahkan oleh saudara, lebih tepatnya kakanda Aksan Al Bimawi pada tulisannya beberapa waktu yang lalu, Bumi Pajo merupakan Negeri di atas awan yang terletak di kecamatan Donggo Kabupaten Bima NTB.
Secara geografis Bumi Pajo merupakan dataran dengan ketinggian 1200-1500 MDPL sehingga terkadang kita dapat menikmati kesejukan embun pagi serta hiasan awan yang menyambangi perkampungan. Saya pikir hal itulah yang menjadi dasar kakanda Aksan Al Bimawi mengatakan ini adalah Negeri di atas awan.
Namun pada tulisan saya, saya tidak akan membahas kembali kecantikan Desa Bumi Pajo. Padatulisan ini saya ingin menyampaikan hal yang sampai hari ini belum mendaoatkan titik terang bagi warga desa.
Dengan curah hujan yang tinggi dan hutan yang masih hijau du sekitar permukiman warga, Desa Bumi Pajo tentunya memiliki sumber air yang melimpah. Hanya saja untuk mengalirkan air sampai ke rumah-rumah perlu perjuangan panjang. Berkat perjuangan panjang pula warga Desa Bumi Pajo yang dulunya hanya dapat memperoleh air bersih dari satu bak umum di masing-masing dusunya, kini mendapat pasokan air bersih di masing-masing rumah. Bahkan kini air didapatkan secara gratis.
Sayangnya, beberapa Desa lain sekitaran tidak mengalami perkembangan dalam penyaluran air bersih seperti di desa Bumi Pajo.
Hingga pada awal 2018 berdasarkan dalil wakaf Al-Qur'an terjalin kerjasama antara Bumi pajo bersama desa sekitaran untuk membagi air bersih. Sungguh arif dan bijaksana pemerintah Desa Bumi Pajo, karena memang Bumi, Air dan Kekayaan lainnya digunakan sebaik-baiknya demi kesejahteraan Bangsa. (Pasal 33).
Masalanya, pembagian air dengan cara mengambil air dari penampungan utama Desa Bumi Pajo dengan pipa yang berbeda tidak pernah diperhitungan secara matang apa efek negatif yang sekiranya dapat di timbulkan. Dalam ilmu mekanika fluida, jika tempat B lebih rendah dari tempat A, maka fluida akan mengalir kebih deras menuju tempat B. Itulah yang sekarang menimpa Negeri di atasa awan tersebut.
Setelah adanya pembagian air tersebut, justru warga Desa Bumi Pajo yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Bahkan untuk keperluan minum, wudhu dan mck. Saya sendiri pernah mendengarkan langsung keluhan dari warga Dusun Padende saat silaturrahmi dengan Karang Taruna Bumi Pajo, bahwasannya untuk wudhupun kami merasakan kesulitan, keran air di rumah-rumah warga mati.
Kesulitan dalam memperoleh air tersebut bukannya tidak pernah didengar oleh pemerintah Desa, hal itupun pernah di ajukan dalam audiensi antara karang taruna denga pemerintah desa, namun lagi-lagi menemukan jalan buntu.
Tulisan ini bukan untuk mengecam pembagian air dari Desa Bumi Pajo dengan Desa sekitaran, justru penulis mengacungkan jempol untuk tindakan tersebut. Hanya saja perlu dievaluasi sistem penyalurannya agar tidak ada pihak yang dirugikan baik dari Desa Bumi Pajo sebagai sumber maupun Desa sekitaran.
Pembagian air harus dilakukan dengan memperhatikan efek yang akan ditimbulkan. Pembagian air ini harus dilakaukan di sumber mata air, yang artinya ada dua pipa sumber dan penampungan utama. Sehingga semua Desa tidak akan mengalami kekurangan pasokan air. Sebab sungai sebagai sumber air tidak akan kering selama masi ada hutan dan hujan.
Harapannya pemerintah bersama dengan seluruh elemen masyarakat dapat mengevaluasi sistem pembagian air Desa Bumi Pajo sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terpenuhi.
Salam damai.
Langganan:
Postingan (Atom)