Jumat, 31 Juli 2020

Penyegelan kantor Desa; Rapor merah kekuasaan.

Penyegelan kantor Desa; Rapor merah kekuasaan.

Pemuda Desa Bumi Pajo yang tergabung dalam Barisan Muda Bumi Pajo menggelar aksi massa setelah aspirasi yang disampaikan melalui Badan Permusyawaratan Desa tidak ditanggapi dengan baik oleh pemerintah Desa.

Keinginan massa aksi untuk beraudiensi secara terbuka dengan Kepala Desa tidak juga diindahkan. Aksi pun berakhir dengan penyegelan kantor Desa sebagai wujud kekecewaan dan mosi tidak percaya.

Desa Bumi Pajo sedang tidak baik-baik saja.!

Ada apa dengan BUMDes.?

BUMDes Wadu Tunti yang dibentuk mulai pada akhir 2017 seakan tifak nampak di masyarakat. BUMDes yang hadir dengan program yang salah satunya adalah usaha simpan pinjam, seperti berjalan di bawah tanah. Penikmat usaha simpan pinjam hanya segelintir orang, penikmatnya disinyalir berupa direksi dan beberapa oknum yang tergabung dalam sistem kepemerintahan dengan jumlah pinjaman jauh lebih besar dari kesepakatan musyawarah (keterangan direksi).
Masyarakat umum sangat minim mendapatkan informasi, padahal jelas-jelas hampir memiliki pinjaman dari dari bank-bank, baik negeri maupun swasta.

Direksi BUMDes tidak mandiri.!

Tercium aroma-aroma intervensi yang kuat atas berjalannya usaha pembelian kemiri yang dilakukan BUMDes. BUMDes tidak memiliki kekuasaan penuh atas jalannya usaha yang dimaksud, sehingga mengurangi laba usaha.

Pengawas BUMDes tidak digunakan dengan baik.!
Dalam pembentukannya, BUMDes sebagai lembaga pendukung serta lembaga penting dalam usaha pemberdayaan masyarakat tentu memiliki pengawas yang bertujuan untuk mengawasi jalannya roda organisasi BUMDes. Sementara pada perjalanannya pengawas BUMDes hampir tidak mengetahui keseluruhan jalannya usaha yang dilakukan oleh BUMDes. Sehingga menyebabkan BUMDes berjalan tanpa pengawasan.

BUMDes untuk siapa.?
Sebuah tanda tanya besar bagi masyarakat Desa Bumi Pajo. Apakah untuk masyarakat umum, ataukah memang hanya untuk segelintir orang-orang tertentu. Hanya sekedar dugaan saja, persentasenya lebih besar dinikmati golongan tertentu, bukan masyarakat recehan. Lalu BUMDes untuk apa?

BUMDes tidak punya rumah.!
Tidak diasuh dengan baik, BUMDes tidak punya rumah sendiri. Menumpang besar di rumah-rumah direksinya, di mana rumah yang memimpin direksi, di situ BUMDes menumpang hidupnya.
Tanda pengenalnya?

BUMDes milik segelintir, bukan milik masyarakat, kenyataannya.!
Siapa aktor di balik kehebatan BUMDes.?
Kita tunggu penjelasannya.!

Transparansi Penggunaan Anggaran Pencegahan Covid-19.

Satgas Pencegahan Covid-19 Desa Bumi Pajo menjalankan tugasnya kurang lebih satu bulan, itu pun terkadang posko dibiarkan kosong ketika mendekati wakt magrib hingga matahari mulai memanas.
Satgas memutuskan melarang masuknya pedagang luar ke dalam Desa Bumi Pajo, namun pedagang tetao bisa memasuki Desa ketika waktu pagi Satgas belum hadir di pos penjagaan.

Satu pintu masuk tidak dijaga oleh satgas, akhirnya pedagang yang ditahan di salah satu pintu masuk, maka memilih masuk di jalan penghubung dengan Desa Ndano Nae.

Sampai hari ini pun, pos penjagaan di jalan penghubung dengan Desa Ndano Nae, jangankan dijaga, pos penjagaannya saja belum selesai dibuat.

Apakah kehabisan anggaran.?
Pernyataan lisan sekretaris Satgas, anggarannya masih ada. Untuk apa? Wallahu a'lam.

Kepentingan pribadi menyampingkan kepentingan umum.!

Jalan menuju pemakaman umum Dusun Ncuhi dan Dusun Padende tampak sangat memprihatinkan, seperti aliran sungai musiman. Memang, pada musim hujan, jalan itu menjadi sungai ketika hujan turun. Ini menyebabkan kesulitan bagi warga ketika mengantarkan mayat menuju persitirahatan terakhirnya. APNDes murni tahun 2020 mensyaratkan alokasi anggaran untuk pengerjaan jalan menuju pemakaman. Kini, berkembang isu bahwa anggarannya akan dialihkan kepada kebutuhan pencegahan  Covid-19 yang tak serius kemarin.

Kenapa harus menyampingkan kepentingan umum, jika masih ada anggaran lain yang bersifat khusus.?
Pembagian bibit sapi yang harganya di atas 5 juta rupiah per ekor dinilai tak seberapa penting dibandingkan dengan perbaikan jalan menuju pemakaman umum.
Pos anggaran pembibitan sapi adalah satu-satunya pos anggaran yang tak dapat dialihkan. Sebab, pos anggaran inilah jalan mulus perpolitikan dua periode. Hehe, lagu lawas.

Pemuda Tidak Dilibatkan Dalam Musyawarah-musyawarah yang berwenang mengambil kebijakan yang berpengaruh dalam kemajuan Desa.

Pemerintah seharusnya menjadikan pemuda sebagai partner kerja demi mendukung kemajuan Desa. Pemuda setidaknya generasi penerus yang harus dilatih bekerja membangun Desa. Pemuda memiliki potensi, selain ilmu, setidaknya kebersamaan yang dimiliki pemuda karena tidak terikat dengan tanggungjawab penuh pada persoalan ekonomi keluarga. Pemuda merupakan sumberdaya manusia yang mesti diberdayagunakan untuk membangun Desa.

Kenyataannya, pemuda terlalu dini untuk dianggap sebagai lawan pemerintahan. Pemuda tidak seberapa hebat untuk memiliki kekuatan mewalan kepemerintahan.

Penyegelan kantor Desa adalah buah dari kerasnya kepala pemerintah Desa yang tidak mau menemui masa aksi.
Sikap keras kepala menunjukan kurangnya kredibilitas seseorang, siapapun itu.

Tindakan tak acuh Kepala Desa akan merusak karir politiknya sendiri. Periode ini hanya uji kelayakan pemimpin. Untuk tahap satu membuktikan kurangnya kredibilitas kepemimpinan kepala Desa. Masyarakat dipaksa menyaksikan layar lebar pertunjukan krisis kepemimpinan Desa Bumi Pajo 2020.

Salam hormat.


Jumat, 01 Mei 2020

Kita, Pemuda dan Mahasiswa Bumi Pajo Bisa Apa ? Kita gagal menjaga marwah

Kita, Pemuda dan Mahasiswa Bumi Pajo Bisa Apa ?
Kita gagal menjaga marwah

Oleh; Anonimous

Bumi Pajo merupakan salah satu Desa di  bagian barat Kecamatan Donggo. Desa di dataran tinggi itu dihuni oleh sekitar 3000 jiwa (keterangan lisan Kepdes). Mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani dengan komoditas utama Jagung.

Dari 3000 jiwa itu termasuk pemuda dan mahasiswa sebagai komposisi paling di sorot oleh masyarakat lain. Seperti yang diketahui bersama, bahwa mahasiswa adalah golongan masyarakat yang dianggap mampu menjadi perumus solusi bagi setiap masalah yang dihadapi oleh masyarakat Desa hingga persoalan Negara. Terlepas dari jurusan dan prodi yang didalami.

Di Desa Bumi Pajo,  mahasiswa dapat dikenal dengan mudah, baik dari penampilan maupun sikap. Mahasiswa dianggap memiliki strata sosial lebih tinggi di atas masyarakat lain dengan pendidikan yang ditempuhnya. Sekali lagi, masyarakat tidak pernah memandang latar belakang jurusan ataupun prodi yang diambil di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Yang dipandang dari mahasiswa adalah keluasan wawasan dan kedalaman berpikir terhadap segala aspek yang berkaitan dengan masyarakat. Baik dari segi sosial lebih-lebih persoalan agama.
Mahasiswa juga dianggap sebagai guru bagi adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah.

Oke, kita mulai ceritranya.

Pandemi covid-19 yang menyerang hampir seluruh wilayah di Indonesia membatasi ruang-ruang publik dan memulangkan  mahasiswa Bumi Pajo dari rantauannya, para mahasiswa tersebut merantau di daerah-daerah yang merupakan zona merah covid-19. Contohnya Mataram dan Makasar.

Sayang sekali, mahasiswa pulang tanpa ide cemerlang dalam menangani covid-19 di Desa Bumi Pajo, justru sebaliknya, mahasiswa datang dengan membawa ancaman bagi masyarakat desa. Ya, ancaman bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Tidak ada yang tahu pasti apakah mereka terbebas dari paparan covid-19 atau tidak. Bahkan instruksi pemerintah untuk melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing selam 14 hari tidak diindahkan oleh sebagian besar mahasiswa yang pulang dari rantauannya, meski sudah sering kali diberikan himbauan melalui toa-toa masjid, didatangi ke rumahnya langsung, ataupun dengan cara-cara lainnya.
Alasannya sederhana, terlalu percaya diri bahwa dirinya baik-baik saja, padahal dia sadar diri dia pulang karena ketakutan terpapar covid di zona merah itu.

Selanjutnya, kita, mahasiswa dan pemuda tidak mampu, lebih tepatnya tidak ada usaha sedikitpun untu memberikan kontribusi nyata dalam melawan covid-19 di Desa Bumi Pajo selain saran-saran yang terkadang hanya dianggap ocehan oleh pemerintah Desa melalui sosial media yang tidak semuanya terbaca juga oleh pemimpin Desa Bumi Pajo. Oke, sarannya bisa saja menjadi pemantik untuk pemdes dalam memulai gerakan pencegahan covid-19 di Desa Bumi Pajo. Tapi sekali lagi, kita hanya mampu sebatas saran ! Tidak lebih.

Satu sisi, Pemerintah Desa Bumi Pajo juga terlalu percaya diri akan kemampuannya mencegah masuknya covid-19 di Desa Bumi Pajo dengan satgas yang dibentuk secara garis besar seluruh jajaran pemerintah Desa sendiri tanpa melibatkan pemuda secara kelembagaan. Padahal Desa Bumi Pajo Jelas memiliki lembaga mitra seperti karang taruna.
Pemerintah dan pemuda tidak sedang memperlihatkan diri sebagai mitra dalam membangun Desa Bumi Pajo. Jelas dari sini bahwa budaya gotong royong masyarakat pedesaan tidak mampu ditunjukan oleh pemerintah maupun pemuda, tak terlepas mahasiswanya. Kita semua.
Apakah ini semua karena persoalan anggaran yang puluhan juta ? Wallahualam.

Terakhir, di Bulan Ramadhan yang biasanya selalu ramai dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa meningkatkan keimanan dan meningkatkan wawasan keagamaan, tidak tampak pada Ramadhan kali ini. Ramadhan kali ini seakan tidak ada mahasiswa yang pulang dari rantauannya. Organisasi-organisasi kedaerahan yang punya nama besar, juga tidak mampu memberikan kontribusi apa-apa. Apa alasannya karena corona? Toh tarawih, kegiatan bertani, kegiatan-kegiatan lainnya juga tidak lepas dari berkerumun bukan ?

Lalu kita, pemuda dan mahasiswa Bumi Pajo mau bangga dengan apa, gaya, pakaian, motor bagus, atau hal-hal tak guna lainnya untuk sosial kemasyarakatan?
Silakan dipikirkan sama-sama.

Tulisan ini diniatkan untuk menjadi pemantik agar kita bisa merefleksikan atau menginstrospeksi diri masing-masing, terutama penulis, sebagai pemuda dan mahasiswa Bumi Pajo, yang katanya masa depan Desa ini ada di tangan kita.
Tidak ada unsur menyalahkan siapapun.
Syukur-syukur jika sampai menjadi bacaan pemerintah desa.


Ditulis mulai pada tanggal 26 April s/d 01 Mei 2020

Kamis, 02 Januari 2020

BIARKAN AKU YANG MEMBAHAGIAKANMU




Jatuh cinta memang bukan pilihan kita. Tapi bangkit dari kejatuhan adalah keharusan. Kamu boleh terjatuh securam cinta menjatuhkanmu. Kamu boleh terpenjara sekuat cinta menawanmu. Kamu boleh tunduk serendah cinta menginjakmu. Kamu boleh ikhlas diperbudak cinta. Ketika kau dilukai pun kau berhak memaafkan. Kamu juga berhak bertahan ketika sekuat perpisahan menginginkan pergi. Kamu berhak mengemis demi cintamu yang maha kaya. Tapi bahagia juga hakmu. Kamu harus bangun dari kejatuhanmu ketika dia meninggalkanmu dalam jurang sendirian. Kamu harus terbang sejauh mungkin dari cinta yang menawanmu ketika penjara cinta ternyata hanya berisi kesedihan.
Kamu harus tegak setegak-tegaknya ketika injakan cinta hanya melukaimu. Kamu harus pandai menjahit lukamu ketika maafmu hanya disia-siakan. Kamu juga harus sadar diri ketika memilih bertahan sekuat tenaga namun dia nyatanya memilih yang lain.
Dia yang membangun megah istana cinta di hatimu lalu menawanmu, menjatuhkanmu ke jurang paling curang, kemudian meninggalkanmu dan pergi dengan ratu barunya itu curang. Akhirnya kamu harus menanggung cinta sendirian atau walaupun dia mencintaimu juga toh dia lebih memilih yang lain itu pertanda bahwa cintamu tidak dia butuhkan lagi.
Herannya aku, mengapa kau masih merawat harapan yang kini kerontang itu? Kau siram harapan itu hari ini, esoknya dia patahkan lagi kuncup yang baru tumbuh itu. Dan kau ulangi menyiramnya lalu di patahkan lagi. Begitu-begitu saja. Saat dia memintamu memberi waktu untuk dia memutuskan tanpa kamu minta keputusan perihal hubungannya dengan orang lain, lalu dia memutuskan untuk bersama yang lain dan memilih meninggalkanmu, mengapa kau masih saja menaruh harapan?
Bukankah sudah terang segala tentang hubungan kalian? Maaf hubungan mereka maksudku. Dia sudah jauh dari dekapanmu. Dia sudah nyaman dengan pelukan lain. Lalu dengan gigih kau berucap "ah, itu cuma hubungan semu antara mereka, aku masih punya kesempatan." Lalu kau apa? Hanya sakitmu yang nyata!
Sudah waktunya pergi. Sudah waktunya membebaskan diri. Sudah waktunya terbang bebas. Sudah waktunya kamu menemukan cinta yang baru. Cinta yang mencintaimu juga.
Kamu tak perlu takut untuk bangkit dan berdiri. Kamu tak perlu takut melangkah. Kamu tak perlu takut menghadapi dunia. Aku tahu bagaimana luka menggerogotimu. Aku adalah orang yang paling siap memeluk lukamu. Mengeringkan lukamu. Kamu tidak perlu percaya begitu dini. Kamu hanya perlu mencoba. Tidak semua obat itu berasa manis, tapi yang pahit dapat menyembuhkan. Aku tidak menjanjikan sesuatu yang manis. Tapi sekuat jiwa dan raga segala lukamu akan aku balut dengan seluruh yang ada padaku. Aku bukan obat yang paten untuk membuatmu tiba-tiba sembuh. Tapi bersama waktu dalam gandengan tangan kita, kau akan kuat untuk melangkah, bahkan terbang tinggi sekalipun.
Kau hanya perlu mencoba membuka kembali hatimu yang patah itu. Kemudian memberikan aku kesempatan untuk aku merekatkannya. Akan kugadaikan seluruh napasku untuk menebus bahagiamu.
Tidak mengapa jika aku hanya mendapat bagian dari puing sisa kehancuran hatimu. Aku tidak perlu kamu yang semegah tertawa. Aku ingin membuatmu tertawa kembali seperti sebelum tertawan dia. Perlahan menunjukanmu bagaimana mentari memberi senyum hingga senja tunduk dan pamit. Menjadi pelita ketika malam membuatmu kalut dalam gulita hingga esok aku orang pertama yang bersedia mendengar mimpi-mimpi buruk ataupun mimpi baikmu.
Tidak ada yang megah padaku. Aku juga tak sanggup membangun istana cinta di dadamu. Tapi aku menyiapkan rumah yang ramah dan tempatmu teduh dari segala keluh hingga kau pulih dari segala kisahmu yang pilu. Dadaku juga siap menjadi tempatmu berdegub. Berdetak di setiap detikmu.
Aku bukan orang paling tahu perihal hubunganmu dengan dia. Bukan pula orang yang paling paham tentang lukamu. Tapi air matamu cukup jadi isyarat bahwa luka yang kau derita itu teramat. Aku juga bukan orang yang lebih baik dari dia yang paling kamu inginkan. Buka. Pula orang yang mampu menghadiahkanmu megahnya istana. Lebih-lebih aku orang yang paling tak pandai membuat luka. Bisaku hanya mengusap perlahan air mata di pipimu, merekatkan kembali patahan hatimu yang biru. Hanya itu bisaku. Dan aku tahu, kamu tak butuh istana itu untuk menyulam lukamu yang menganga. Kau butuh aku yang siap menjadi benang untuk kau jahit lukamu. Hanya itu. Kau saja yang rumit menerimanya.


Fhend_Bhabo
03 Januari 2020
Tepi laut selatan

Rabu, 25 Desember 2019

SELALU ADA KATA SELAMAT UNTUK SETIAP SELAMAT TINGGAL



"selamat tinggal tinggal kota Mataram"  katamu, sebuah ucapan perpisahan sederhana saat kau mengusaikan segala petulangan hebatmu di tanah Sasak.

Dengan penuh terima kasih atas segala yang diberikan tanah Sasak, kau melangkah dengan mantap, menuju dunia baru, mengurai satu persatu mimpi yang kau rajut sepanjang petualanganmu.

"Selamat tinggal kota Mataram".
Kota Mataram dengan segala kenangan yang mendewasakan, keringat, perih, luka, air mata, juga cinta terukir abadi di dalamnya.

Tanpa sadar, ada bagian yang sedikit tersayat oleh kalimat sederhana itu yang kemudian dimuntahkannya lewat mata lalu menempel di pipi. Bagaimana tidak, Mataram bukan hanya sekedar tempat petulangan ilmumu bergulir, di samping itu, aku turut menjadi bagian dari petualangan panjangmu, petualangan kita.

Ucapan selamat tinggal itu mengarah ke seluruh yang ada padanya, termasuk aku yang masih menikmati sisa petualangan dalam tikaman rindu yang hebat ini.

Tapi, di balik itu semua, Aku juga tetap ingin mengucapkan selamat, selamat atas terselesaikannya petualangan panjang yang kau lewati. Semoga sudah kau tuai hikmah dari petualangan itu.

Jikapun kau baca tulisan ini, aku tidak berniat mengundang rindumu, jikapun rindumu berbicara tegas, maka belai ia dengan lembut jemarimu agar tak berontak, suatu saat kita pasti akan bertemu. Entah kita dalam satu pelukan atau kau dengan yang lainnya sedang di pelaminan.

Tidak ada yang lebih penting dari kemanusiaan. Dengan bekal pendidikan tinggi yang pernah kau tempuh, besar harapan untuk kau menyebarkan benih semangat kepada lingkungan sekitarmu, pendidikan telah membuatmu sederajat lebih tinggi dibanding yang tidak, tapi semua tidak berguna jika pendidikan hanya kau nikmati sendirian tak kau tularkan semangatmu. Wanita adalah guru pertama untuk anaknya, maka ia harus berpendidikan.

Akhir kata, sampai jumpa di lain kesempatan. Semoga rindu kita mekar tiap hari untuk nanti kita tuai.

Selalu ada kata selamat dalam setiap selamat tinggal.
Selamat untuk petualangan panjang yang telah kau tuntaskan.

Dalam teduhnya rindu
Lotim, 26 Des 2019
Fhendy_Bhabo

Rabu, 07 November 2018

MERAWAT OPTIMISME KAUM MUDA. Mulai Dari Desa

MERAWAT OPTIMISME KAUM MUDA
Mulai Dari Desa  


Tulisan ini aku persembahkan untuk seluruh kawan-kawan pemuda Desa Bumi Pajo, Donggo, Bima. Semoga semangat perjuangan kita tetap terjaga dalam merawat Desa tercinta.




"Beri aku seratus orang tua, akan aku cabut semeru dari akar-akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, akan aku guncangkan dunia."
Begitu kiranya ukangkapan yang dilontarkan oleh sang orator ulung, Bung Karno, yang sanggup membuat merinding ketika membacanya kembali. Begitu penting peranan kaum muda dalam perkembangan dunia, jika dimaknai lebih dalam ungkapan di atas.

Sejarah panjang Bangsa Indonesia tidak lepas dari peran kaum muda, pertikaian dengan golongan tua yang berujung dengan penculikan Soekarno, atau dikenal dengan peristiwa rengasdengklok, menjadi awal berdirinya Bangsa Indonesia.

Perjalanan Bangsa terus dikawal oleh pemuda yang menyadari tanggungjawabnya sebagai agen bagi perubahan, yang melahirkan sejarah baru, penggulingan rezim tangan besi, si diktator bernama Soeharto yang kita kenal dengan gerakan revolusi. Berlandaskan leadaan Negara yang carut marut akibat Kolusi, Korupsi, Nepotisme, dan pelanggaran HAM terbesar di dunia, menjadikan akhir dari kekuasaan rezim tangan besi tersebut.

Sejarah di atas menjadi bukti, bahwa peran kaum muda layak diperhitungkan dalam membangun sebuah Bangsa, pemuda kekinian harus memiliki rasa malu terhadap sejarah yang pernah ada, sejarah tidak boleh dibiarkan hanya sebagai catatan usang dalam di museum-museum pustaka. Sejarah harus menjadi bahan pelajaran sekaligus memacu semangat agar semangat perjuangan sejarah dapat diwarisi oleh kaum muda. Kaum muda harus menanamkan rasa malu membiarkan kesewenangan yang terjadi. Sebaliknya gelora perjuangan harus tetap dikibarkan.

Tidak mesti menggulingkan rezim yang berkuasa layaknya pemuda 98, kita memulai dari bagian terkecil yaitu lingkungan sekitar. Desa, contohnya.

Fenomena kesewenangan terjadi bukan hanya di tataran tertinggi Negara, skala Desa saja sudah menjadi ladang empuk bagi kesewenangan penguasa, tidak perlu diurai panjang lebar kesewenangan-kesewenangan yang dilakukan, kita dapat melihatnya sendiri di Desa-Desa tempat kita hidup. Kasus korupsi Dana Desa yang menjerat ratusan kepala Desa menjadi bukti kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh penguasa. Selebihnya hal-hal normatif yang menyangkut hajat hidup masyarakat desa tidak pernah lepas dari kesewenangan-kesewenangan dan penyimpangan-penyimpangan pemerintah, khususnya pemerintah Desa.

Kaum muda tidak boleh diam dan manut melihat hal tersebut, fungsi sebagai pengontrol harus dijalankan sebagaimana mestinya, penyimpangan tidak boleh dibiarkan menjadi-jadi untuk menciptakan kehidupan sosial yang adil dan merata. 

Pengawalan terhadap seluruh kebijakan yang ditelurkan oleh pemerintah, contohnya program bedah rumah, pembibitan hewan, pembagian benih-benih pertanian, dan lain-lain yang menjadi kebijakan harus dijalankan secara intens agar tidak terjadinya penyelewangan, karena dalam setiap proyek, pasti ada saja yang ingin mengambil yamg bukan hak milik hanya untuk memenuhi hastrat kelayaan pribadi.

Pemuda yang merupakan pioner diharapkan dapat menjadi penyambung lidah bagi masyarakat, termasuk masyarakat Desa. Perstuan pemuda menjadi tumpuan kekuatan utama dalam pelaksanaan fungsinya, penyatuan persepsi terhadap hal-hal pokok yang sifatnya normatif adalah keharusan untuk mencapai tujuan bersama.
Ibarat lidi, jika hanya satu lidi, hanya dijadikan tusuk gigi, tapi jika digabung dalam satu ikatan, maka dia akan membersihkan sampah apapun. Begitulah analogi sederhananya. 

Harapan besar masyarakat, pemuda menjadi jembatan yang dapat menjadi penyampai sekaligus pejuang bagi segala keluh kesahnya.

Salam hormat untuk kaum muda..
Fhendy_Bhabo


Rabu, 15 Agustus 2018

LUKA PENINGGALAN

LUKA PENINGGALAN

Perlahan sepoi tiba di jendelaku
Menghantar syahdu pada titik lara
Matahari sore yang sedang melukis jingga di tepi langit juga beranjak pergi, mungkin lelah

Aku menyalakan sebatang lilin yang tersisa di laci meja
Perlahan gemericik menghampiri jendela yang tak lagi bercahaya
Kenangan menggenangi seluruh ruang di kepala dan batinku
Kau kembali menjelma dalam pancaran cahaya lilin

Selembar kertas berpita merah muda tergeletak di atas tempat tidur
Indah dengan simpul yang membentuk hati
Dengan getar, aku tarik salah satu ujung simpulnya
Diana.....

Di belakangnya ada secarik kertas berbeda rupa dengan tulisan tangan
Akuh hafal itu bentuk tulisan siapa
Rupanya kau meminta aku merelakan kau yang berpindah hati
Memohon restu menikah dengan anak kepala desa

Seketika gerimis berpindah ke pipi-pipiku
Di kelopak mataku tumbuh air terjun yang begitu menderu
Sebagai luapan dari hati yang berserakan sebab ulahmu
Kau hancurkan istana megah yang aku siapkan  hanya untukmu

Pada resepsi pernikahanmu
Aku datang menjadi saksi atas bahagia milikmu
Kau merayakan bahagia
Aku merayakan kecewa

Beribu jabat memberimu selamat
Selamat untuk hatimu yang tertambat
Biarkan aku kembali merawat luka
Menyusun kembali hati yang penuh nelangsa

Semoga bahagia mendampingimu juga
Semoga rasaku kini tak menerpamu
Sebab kau terlalu rapuh untuk terluka

Nanti, bila dalam mahligai tak kau temui bahagia
Berhati-hatilah
Sebab dia bukan aku yang selalu siap penjadi pelarian saat kau terluka

Tanah Sasak
 09 Agustus 2018
 Fhendy_Bhabo


TANGGUH MENCINTA

TANGGUH MENCINTA

Matahari petang benar-benar pulang pada pangkuan langit
Temaram lampu-lampu kota menghias malam penuh jerit
Ingatan kembali bermukim di kepala yang ingin melupa
Merobek kembali jahitan-jahitan luka lama

Diantara beribu kelip gemintang, kau menyala sebagai satu-satunya kerinduan
Terbaca lagi jalan-jalan panjang dan segala tawa yang kini tak ubahnya sebatas kenangan
Sepoi hembus angin malam menempatkan sepi pada relung hati penuh nelangsa
Lalu sederas air terjun di bibir netra

Sekuat apapun aku menghapus kenang, sekuat itu pula rinduku menjadikanmu peran utama
Seulet apapun aku mencari jalan baru, sebanyak itu pula rindu menghantarku pada masa silam
Setegar apapun aku coba bangkit, setangguh itu pula cinta menjatuhkanku padamu yang tak pandai membalas
Sejauh apapun berlari, cinta selalu menuntunku membali
Meski segenap rasaku hanya berakhir pada kehampaan

Dari segala itu, aku belajar bagaimana mencintai
Tanpa engkau kembalipun
Cintaku takkan pernah berajak
Jatuh berulang-ulangpun akan aku nikmati sebagai resiko mencintaimu...

Mataram,
04 Agustus 2018
Fhendy_Bhabo