Jumat, 31 Juli 2020

Penyegelan kantor Desa; Rapor merah kekuasaan.

Penyegelan kantor Desa; Rapor merah kekuasaan.

Pemuda Desa Bumi Pajo yang tergabung dalam Barisan Muda Bumi Pajo menggelar aksi massa setelah aspirasi yang disampaikan melalui Badan Permusyawaratan Desa tidak ditanggapi dengan baik oleh pemerintah Desa.

Keinginan massa aksi untuk beraudiensi secara terbuka dengan Kepala Desa tidak juga diindahkan. Aksi pun berakhir dengan penyegelan kantor Desa sebagai wujud kekecewaan dan mosi tidak percaya.

Desa Bumi Pajo sedang tidak baik-baik saja.!

Ada apa dengan BUMDes.?

BUMDes Wadu Tunti yang dibentuk mulai pada akhir 2017 seakan tifak nampak di masyarakat. BUMDes yang hadir dengan program yang salah satunya adalah usaha simpan pinjam, seperti berjalan di bawah tanah. Penikmat usaha simpan pinjam hanya segelintir orang, penikmatnya disinyalir berupa direksi dan beberapa oknum yang tergabung dalam sistem kepemerintahan dengan jumlah pinjaman jauh lebih besar dari kesepakatan musyawarah (keterangan direksi).
Masyarakat umum sangat minim mendapatkan informasi, padahal jelas-jelas hampir memiliki pinjaman dari dari bank-bank, baik negeri maupun swasta.

Direksi BUMDes tidak mandiri.!

Tercium aroma-aroma intervensi yang kuat atas berjalannya usaha pembelian kemiri yang dilakukan BUMDes. BUMDes tidak memiliki kekuasaan penuh atas jalannya usaha yang dimaksud, sehingga mengurangi laba usaha.

Pengawas BUMDes tidak digunakan dengan baik.!
Dalam pembentukannya, BUMDes sebagai lembaga pendukung serta lembaga penting dalam usaha pemberdayaan masyarakat tentu memiliki pengawas yang bertujuan untuk mengawasi jalannya roda organisasi BUMDes. Sementara pada perjalanannya pengawas BUMDes hampir tidak mengetahui keseluruhan jalannya usaha yang dilakukan oleh BUMDes. Sehingga menyebabkan BUMDes berjalan tanpa pengawasan.

BUMDes untuk siapa.?
Sebuah tanda tanya besar bagi masyarakat Desa Bumi Pajo. Apakah untuk masyarakat umum, ataukah memang hanya untuk segelintir orang-orang tertentu. Hanya sekedar dugaan saja, persentasenya lebih besar dinikmati golongan tertentu, bukan masyarakat recehan. Lalu BUMDes untuk apa?

BUMDes tidak punya rumah.!
Tidak diasuh dengan baik, BUMDes tidak punya rumah sendiri. Menumpang besar di rumah-rumah direksinya, di mana rumah yang memimpin direksi, di situ BUMDes menumpang hidupnya.
Tanda pengenalnya?

BUMDes milik segelintir, bukan milik masyarakat, kenyataannya.!
Siapa aktor di balik kehebatan BUMDes.?
Kita tunggu penjelasannya.!

Transparansi Penggunaan Anggaran Pencegahan Covid-19.

Satgas Pencegahan Covid-19 Desa Bumi Pajo menjalankan tugasnya kurang lebih satu bulan, itu pun terkadang posko dibiarkan kosong ketika mendekati wakt magrib hingga matahari mulai memanas.
Satgas memutuskan melarang masuknya pedagang luar ke dalam Desa Bumi Pajo, namun pedagang tetao bisa memasuki Desa ketika waktu pagi Satgas belum hadir di pos penjagaan.

Satu pintu masuk tidak dijaga oleh satgas, akhirnya pedagang yang ditahan di salah satu pintu masuk, maka memilih masuk di jalan penghubung dengan Desa Ndano Nae.

Sampai hari ini pun, pos penjagaan di jalan penghubung dengan Desa Ndano Nae, jangankan dijaga, pos penjagaannya saja belum selesai dibuat.

Apakah kehabisan anggaran.?
Pernyataan lisan sekretaris Satgas, anggarannya masih ada. Untuk apa? Wallahu a'lam.

Kepentingan pribadi menyampingkan kepentingan umum.!

Jalan menuju pemakaman umum Dusun Ncuhi dan Dusun Padende tampak sangat memprihatinkan, seperti aliran sungai musiman. Memang, pada musim hujan, jalan itu menjadi sungai ketika hujan turun. Ini menyebabkan kesulitan bagi warga ketika mengantarkan mayat menuju persitirahatan terakhirnya. APNDes murni tahun 2020 mensyaratkan alokasi anggaran untuk pengerjaan jalan menuju pemakaman. Kini, berkembang isu bahwa anggarannya akan dialihkan kepada kebutuhan pencegahan  Covid-19 yang tak serius kemarin.

Kenapa harus menyampingkan kepentingan umum, jika masih ada anggaran lain yang bersifat khusus.?
Pembagian bibit sapi yang harganya di atas 5 juta rupiah per ekor dinilai tak seberapa penting dibandingkan dengan perbaikan jalan menuju pemakaman umum.
Pos anggaran pembibitan sapi adalah satu-satunya pos anggaran yang tak dapat dialihkan. Sebab, pos anggaran inilah jalan mulus perpolitikan dua periode. Hehe, lagu lawas.

Pemuda Tidak Dilibatkan Dalam Musyawarah-musyawarah yang berwenang mengambil kebijakan yang berpengaruh dalam kemajuan Desa.

Pemerintah seharusnya menjadikan pemuda sebagai partner kerja demi mendukung kemajuan Desa. Pemuda setidaknya generasi penerus yang harus dilatih bekerja membangun Desa. Pemuda memiliki potensi, selain ilmu, setidaknya kebersamaan yang dimiliki pemuda karena tidak terikat dengan tanggungjawab penuh pada persoalan ekonomi keluarga. Pemuda merupakan sumberdaya manusia yang mesti diberdayagunakan untuk membangun Desa.

Kenyataannya, pemuda terlalu dini untuk dianggap sebagai lawan pemerintahan. Pemuda tidak seberapa hebat untuk memiliki kekuatan mewalan kepemerintahan.

Penyegelan kantor Desa adalah buah dari kerasnya kepala pemerintah Desa yang tidak mau menemui masa aksi.
Sikap keras kepala menunjukan kurangnya kredibilitas seseorang, siapapun itu.

Tindakan tak acuh Kepala Desa akan merusak karir politiknya sendiri. Periode ini hanya uji kelayakan pemimpin. Untuk tahap satu membuktikan kurangnya kredibilitas kepemimpinan kepala Desa. Masyarakat dipaksa menyaksikan layar lebar pertunjukan krisis kepemimpinan Desa Bumi Pajo 2020.

Salam hormat.


Jumat, 01 Mei 2020

Kita, Pemuda dan Mahasiswa Bumi Pajo Bisa Apa ? Kita gagal menjaga marwah

Kita, Pemuda dan Mahasiswa Bumi Pajo Bisa Apa ?
Kita gagal menjaga marwah

Oleh; Anonimous

Bumi Pajo merupakan salah satu Desa di  bagian barat Kecamatan Donggo. Desa di dataran tinggi itu dihuni oleh sekitar 3000 jiwa (keterangan lisan Kepdes). Mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani dengan komoditas utama Jagung.

Dari 3000 jiwa itu termasuk pemuda dan mahasiswa sebagai komposisi paling di sorot oleh masyarakat lain. Seperti yang diketahui bersama, bahwa mahasiswa adalah golongan masyarakat yang dianggap mampu menjadi perumus solusi bagi setiap masalah yang dihadapi oleh masyarakat Desa hingga persoalan Negara. Terlepas dari jurusan dan prodi yang didalami.

Di Desa Bumi Pajo,  mahasiswa dapat dikenal dengan mudah, baik dari penampilan maupun sikap. Mahasiswa dianggap memiliki strata sosial lebih tinggi di atas masyarakat lain dengan pendidikan yang ditempuhnya. Sekali lagi, masyarakat tidak pernah memandang latar belakang jurusan ataupun prodi yang diambil di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Yang dipandang dari mahasiswa adalah keluasan wawasan dan kedalaman berpikir terhadap segala aspek yang berkaitan dengan masyarakat. Baik dari segi sosial lebih-lebih persoalan agama.
Mahasiswa juga dianggap sebagai guru bagi adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah.

Oke, kita mulai ceritranya.

Pandemi covid-19 yang menyerang hampir seluruh wilayah di Indonesia membatasi ruang-ruang publik dan memulangkan  mahasiswa Bumi Pajo dari rantauannya, para mahasiswa tersebut merantau di daerah-daerah yang merupakan zona merah covid-19. Contohnya Mataram dan Makasar.

Sayang sekali, mahasiswa pulang tanpa ide cemerlang dalam menangani covid-19 di Desa Bumi Pajo, justru sebaliknya, mahasiswa datang dengan membawa ancaman bagi masyarakat desa. Ya, ancaman bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Tidak ada yang tahu pasti apakah mereka terbebas dari paparan covid-19 atau tidak. Bahkan instruksi pemerintah untuk melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing selam 14 hari tidak diindahkan oleh sebagian besar mahasiswa yang pulang dari rantauannya, meski sudah sering kali diberikan himbauan melalui toa-toa masjid, didatangi ke rumahnya langsung, ataupun dengan cara-cara lainnya.
Alasannya sederhana, terlalu percaya diri bahwa dirinya baik-baik saja, padahal dia sadar diri dia pulang karena ketakutan terpapar covid di zona merah itu.

Selanjutnya, kita, mahasiswa dan pemuda tidak mampu, lebih tepatnya tidak ada usaha sedikitpun untu memberikan kontribusi nyata dalam melawan covid-19 di Desa Bumi Pajo selain saran-saran yang terkadang hanya dianggap ocehan oleh pemerintah Desa melalui sosial media yang tidak semuanya terbaca juga oleh pemimpin Desa Bumi Pajo. Oke, sarannya bisa saja menjadi pemantik untuk pemdes dalam memulai gerakan pencegahan covid-19 di Desa Bumi Pajo. Tapi sekali lagi, kita hanya mampu sebatas saran ! Tidak lebih.

Satu sisi, Pemerintah Desa Bumi Pajo juga terlalu percaya diri akan kemampuannya mencegah masuknya covid-19 di Desa Bumi Pajo dengan satgas yang dibentuk secara garis besar seluruh jajaran pemerintah Desa sendiri tanpa melibatkan pemuda secara kelembagaan. Padahal Desa Bumi Pajo Jelas memiliki lembaga mitra seperti karang taruna.
Pemerintah dan pemuda tidak sedang memperlihatkan diri sebagai mitra dalam membangun Desa Bumi Pajo. Jelas dari sini bahwa budaya gotong royong masyarakat pedesaan tidak mampu ditunjukan oleh pemerintah maupun pemuda, tak terlepas mahasiswanya. Kita semua.
Apakah ini semua karena persoalan anggaran yang puluhan juta ? Wallahualam.

Terakhir, di Bulan Ramadhan yang biasanya selalu ramai dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa meningkatkan keimanan dan meningkatkan wawasan keagamaan, tidak tampak pada Ramadhan kali ini. Ramadhan kali ini seakan tidak ada mahasiswa yang pulang dari rantauannya. Organisasi-organisasi kedaerahan yang punya nama besar, juga tidak mampu memberikan kontribusi apa-apa. Apa alasannya karena corona? Toh tarawih, kegiatan bertani, kegiatan-kegiatan lainnya juga tidak lepas dari berkerumun bukan ?

Lalu kita, pemuda dan mahasiswa Bumi Pajo mau bangga dengan apa, gaya, pakaian, motor bagus, atau hal-hal tak guna lainnya untuk sosial kemasyarakatan?
Silakan dipikirkan sama-sama.

Tulisan ini diniatkan untuk menjadi pemantik agar kita bisa merefleksikan atau menginstrospeksi diri masing-masing, terutama penulis, sebagai pemuda dan mahasiswa Bumi Pajo, yang katanya masa depan Desa ini ada di tangan kita.
Tidak ada unsur menyalahkan siapapun.
Syukur-syukur jika sampai menjadi bacaan pemerintah desa.


Ditulis mulai pada tanggal 26 April s/d 01 Mei 2020

Kamis, 02 Januari 2020

BIARKAN AKU YANG MEMBAHAGIAKANMU




Jatuh cinta memang bukan pilihan kita. Tapi bangkit dari kejatuhan adalah keharusan. Kamu boleh terjatuh securam cinta menjatuhkanmu. Kamu boleh terpenjara sekuat cinta menawanmu. Kamu boleh tunduk serendah cinta menginjakmu. Kamu boleh ikhlas diperbudak cinta. Ketika kau dilukai pun kau berhak memaafkan. Kamu juga berhak bertahan ketika sekuat perpisahan menginginkan pergi. Kamu berhak mengemis demi cintamu yang maha kaya. Tapi bahagia juga hakmu. Kamu harus bangun dari kejatuhanmu ketika dia meninggalkanmu dalam jurang sendirian. Kamu harus terbang sejauh mungkin dari cinta yang menawanmu ketika penjara cinta ternyata hanya berisi kesedihan.
Kamu harus tegak setegak-tegaknya ketika injakan cinta hanya melukaimu. Kamu harus pandai menjahit lukamu ketika maafmu hanya disia-siakan. Kamu juga harus sadar diri ketika memilih bertahan sekuat tenaga namun dia nyatanya memilih yang lain.
Dia yang membangun megah istana cinta di hatimu lalu menawanmu, menjatuhkanmu ke jurang paling curang, kemudian meninggalkanmu dan pergi dengan ratu barunya itu curang. Akhirnya kamu harus menanggung cinta sendirian atau walaupun dia mencintaimu juga toh dia lebih memilih yang lain itu pertanda bahwa cintamu tidak dia butuhkan lagi.
Herannya aku, mengapa kau masih merawat harapan yang kini kerontang itu? Kau siram harapan itu hari ini, esoknya dia patahkan lagi kuncup yang baru tumbuh itu. Dan kau ulangi menyiramnya lalu di patahkan lagi. Begitu-begitu saja. Saat dia memintamu memberi waktu untuk dia memutuskan tanpa kamu minta keputusan perihal hubungannya dengan orang lain, lalu dia memutuskan untuk bersama yang lain dan memilih meninggalkanmu, mengapa kau masih saja menaruh harapan?
Bukankah sudah terang segala tentang hubungan kalian? Maaf hubungan mereka maksudku. Dia sudah jauh dari dekapanmu. Dia sudah nyaman dengan pelukan lain. Lalu dengan gigih kau berucap "ah, itu cuma hubungan semu antara mereka, aku masih punya kesempatan." Lalu kau apa? Hanya sakitmu yang nyata!
Sudah waktunya pergi. Sudah waktunya membebaskan diri. Sudah waktunya terbang bebas. Sudah waktunya kamu menemukan cinta yang baru. Cinta yang mencintaimu juga.
Kamu tak perlu takut untuk bangkit dan berdiri. Kamu tak perlu takut melangkah. Kamu tak perlu takut menghadapi dunia. Aku tahu bagaimana luka menggerogotimu. Aku adalah orang yang paling siap memeluk lukamu. Mengeringkan lukamu. Kamu tidak perlu percaya begitu dini. Kamu hanya perlu mencoba. Tidak semua obat itu berasa manis, tapi yang pahit dapat menyembuhkan. Aku tidak menjanjikan sesuatu yang manis. Tapi sekuat jiwa dan raga segala lukamu akan aku balut dengan seluruh yang ada padaku. Aku bukan obat yang paten untuk membuatmu tiba-tiba sembuh. Tapi bersama waktu dalam gandengan tangan kita, kau akan kuat untuk melangkah, bahkan terbang tinggi sekalipun.
Kau hanya perlu mencoba membuka kembali hatimu yang patah itu. Kemudian memberikan aku kesempatan untuk aku merekatkannya. Akan kugadaikan seluruh napasku untuk menebus bahagiamu.
Tidak mengapa jika aku hanya mendapat bagian dari puing sisa kehancuran hatimu. Aku tidak perlu kamu yang semegah tertawa. Aku ingin membuatmu tertawa kembali seperti sebelum tertawan dia. Perlahan menunjukanmu bagaimana mentari memberi senyum hingga senja tunduk dan pamit. Menjadi pelita ketika malam membuatmu kalut dalam gulita hingga esok aku orang pertama yang bersedia mendengar mimpi-mimpi buruk ataupun mimpi baikmu.
Tidak ada yang megah padaku. Aku juga tak sanggup membangun istana cinta di dadamu. Tapi aku menyiapkan rumah yang ramah dan tempatmu teduh dari segala keluh hingga kau pulih dari segala kisahmu yang pilu. Dadaku juga siap menjadi tempatmu berdegub. Berdetak di setiap detikmu.
Aku bukan orang paling tahu perihal hubunganmu dengan dia. Bukan pula orang yang paling paham tentang lukamu. Tapi air matamu cukup jadi isyarat bahwa luka yang kau derita itu teramat. Aku juga bukan orang yang lebih baik dari dia yang paling kamu inginkan. Buka. Pula orang yang mampu menghadiahkanmu megahnya istana. Lebih-lebih aku orang yang paling tak pandai membuat luka. Bisaku hanya mengusap perlahan air mata di pipimu, merekatkan kembali patahan hatimu yang biru. Hanya itu bisaku. Dan aku tahu, kamu tak butuh istana itu untuk menyulam lukamu yang menganga. Kau butuh aku yang siap menjadi benang untuk kau jahit lukamu. Hanya itu. Kau saja yang rumit menerimanya.


Fhend_Bhabo
03 Januari 2020
Tepi laut selatan