Rabu, 15 Agustus 2018

KARMA 1

KARMA 1

Jantung memompa darah lebih cepat dari biasanya
Paru-paru membakar napas lebih hangat dari bara
Hati berbinar-binar lebih cerah dari sekedar merah muda
Sebab, datangmu menyemai benih-benih cinta

Terjagaku siang dan malam merawat cinta yang perlahan tumbuh di dada
Tak pernah kubiarkan baterai ponselku melemah apalagi kehabisan daya
Berharap esok subuh kabar darimu dapat kuterima
Detik demi detik aku luangkan untuk menanti pesan singkatmu meski sekedar bertanya aku sedang apa

Tiba-tiba, setelah puluhan purnama berlalu
Aku mendengar kabar paling duka yang tak dapat hatiku terima
Begitu angkuh kau bermadu kasih dengan seorang bintara

Jantung berhenti berdegup, paru-paru berhenti menghembus, dan hati remuk berserakan terpukul kecewa
Berhari-hari aku mendekap dalam jeruji lara
Menggigil di tengah terik yang membakar hingga mata lak lagi sanggup menatap dunia
Semua orang menertawai menganggap aku gila

Lalu, setelah sekian lama
Dengan terseok-seok aku mencoba beridiri meski jantung tak lagi memompa
Mencoba benapas kembali dengan paru-paru penuh luka
Menyusun kembali hati yang penuh nelangsa

Kau perlahan aku pudarkan meski tak semua
Sisa-sisa dirimu tertinggal meski hanya nama
Menjadi pertanda, agar tak salah jatuh cinta

Setelah aku hampir melupa
Kau datang dengan pipi yang ternodai air mata
Tak tau tempat mengadu akan duka lara yang kau derita
Kau dicampakkan oleh bintara yang dulunya kau puja

Perlahan airmatamu kuseka
Tambah kau tersedu di pundak yang pernah kau hina
Tangismu pecah tak lagi sanggup menanggung derita
Tuhan memberlakukan peraturan bernama,
Karma

Tanah sasak,
30 Juni 2018
Fhendy_Bhabo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar