Minggu, 17 September 2017

Pendidikan dan kemisikinan

Pendidikan adalah sektor terdekat yng menjadi kebutuhan pokok bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pendidikan dianggap hal yang penting untuk melepaskan diri dari belenggu pembodohona dan kemiskinan. Maka tidak sedikit orang tua yang harus merelakan tanah, ternak, bahkan rumahnya dijual demi membiayai pendidikan anaknya. Sebab pendidikan yang semakin mahal tiap tahunnya. Mulai dari SD, SMP, SMA, apalagi Perguruan Tinggi (PT).
Namun disisi lain pemerintah seakan gelap mata melihat realita pendidikan yang semakin hari semakin mahal. Sektor pendidikan dijadikan lahan untuk berebut keuntungan bagi segelintir orang. Pemerintah melepas tanggung jawabnya melalui berbagai macam regulasi yang mengarakan pendidikan kepada sektor pasar semata, sehingga tidak ada lagi campur tangan negara dalam hal kenaikan biaya pendidikan.
Disatu sisi pemerataan pendidikan belum juga mampu terjawab hingga hari ini. Daerah pelosok masih harus meraskan belajar dalam ruangan yang sudah reok dan suatu waktu dapat runtuh, ditambah dengan ketersediaan buku belajar yang minim serta guru yang kurang.
Hal diatas jelas menjadi masalah besar dalam peningkatan mutu pendidikan Indonesia.
Sangat banyak anak Indonesia yang tidak dapat merasakan bagaimana duduk di bangku sekolah lantaran biayanya yang sangat mahal. Mulai dari beli seragam, uang komite atau spp.
Jadi jangan heran jika banyak sekali muncul pergaulan bebas, bahkan sampai penggunaaan obat-obatan terlarang yang kerap terjadi pada generasi muda Indonesia, itu semua adalah imbas dari pendidikan yang belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia.
Dari semua hal itu, bukan semata-mata karena takdir dan kemalasan dari generasi, melainkan ada hatu satu sistem yang menjadi dalang dari itu semua itu. Dipelopori oleh teorinya adam smith, tentang pasar bebas. Kapitalisme namanya. Dimana sistem ini merupakan suatu sistem yang segala sesuatunya bergantung pada modal.
Sistem inilah yang menjadi biangnya.

Ketika pendidikan tidak mampu dijawab oleh negara, maka kemiskinanpun tak dapat terelakan lagi. Sebab, selai lapangan kerja yang minim, industri atau perusahan lebih memilih orang-orang yang berkompeten dengan lulusan sekolah/perguruan tinggi ternama. ditamabah lagi pada era MEA yang diresmikan pada akhir 2015 kemarin mengharuskan masyrakat Indonesia untuk bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara yang lebih maju, seperti China, Jepang, dan lain-lain.

Oh Indonesia....
Sungguh malang....

Maka dapat ditarik kesimpulan  bahwa kemiskinan, kelaparan yang terjadi hari ini bukan semata-mata takdir dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Melainkan ini adalah satu rencana yang memang sudah disusun dengan sengaja oleh penyelenggara negara yang bernaung dibawah mazhab kapitalisme.

HIDUP RAKYAT....!!!!

Jumat, 15 September 2017

Rintik Kenangan


Hujan membasahi jendela kamarku
Terdengar berirama
Berdenting bak senar bermelodi
Membuyarkan bayang tentangmu

Pekat senyummu lekat
Melayang bersama aroma kopi
Terbang dalam letupan asap tembakau
Mengusik rindu yang ingin berdamai

kata-kata mengoyak pikir
Namamu melelehkan tinta pada putih luka
menjamah ujung benak bermuara

Ya ! tepat setelah ruang ini kau tinggalkan
Aku mencarimu dalam setiap kata yang kukirim pada Tuhan

Tapi, tak ada rindu yang mampu menemukannya
Hanya luka yang mekar pada tangkai yang letih