Pendidikan adalah sektor terdekat yng menjadi kebutuhan pokok bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pendidikan dianggap hal yang penting untuk melepaskan diri dari belenggu pembodohona dan kemiskinan. Maka tidak sedikit orang tua yang harus merelakan tanah, ternak, bahkan rumahnya dijual demi membiayai pendidikan anaknya. Sebab pendidikan yang semakin mahal tiap tahunnya. Mulai dari SD, SMP, SMA, apalagi Perguruan Tinggi (PT).
Namun disisi lain pemerintah seakan gelap mata melihat realita pendidikan yang semakin hari semakin mahal. Sektor pendidikan dijadikan lahan untuk berebut keuntungan bagi segelintir orang. Pemerintah melepas tanggung jawabnya melalui berbagai macam regulasi yang mengarakan pendidikan kepada sektor pasar semata, sehingga tidak ada lagi campur tangan negara dalam hal kenaikan biaya pendidikan.
Disatu sisi pemerataan pendidikan belum juga mampu terjawab hingga hari ini. Daerah pelosok masih harus meraskan belajar dalam ruangan yang sudah reok dan suatu waktu dapat runtuh, ditambah dengan ketersediaan buku belajar yang minim serta guru yang kurang.
Disatu sisi pemerataan pendidikan belum juga mampu terjawab hingga hari ini. Daerah pelosok masih harus meraskan belajar dalam ruangan yang sudah reok dan suatu waktu dapat runtuh, ditambah dengan ketersediaan buku belajar yang minim serta guru yang kurang.
Hal diatas jelas menjadi masalah besar dalam peningkatan mutu pendidikan Indonesia.
Sangat banyak anak Indonesia yang tidak dapat merasakan bagaimana duduk di bangku sekolah lantaran biayanya yang sangat mahal. Mulai dari beli seragam, uang komite atau spp.
Sangat banyak anak Indonesia yang tidak dapat merasakan bagaimana duduk di bangku sekolah lantaran biayanya yang sangat mahal. Mulai dari beli seragam, uang komite atau spp.
Jadi jangan heran jika banyak sekali muncul pergaulan bebas, bahkan sampai penggunaaan obat-obatan terlarang yang kerap terjadi pada generasi muda Indonesia, itu semua adalah imbas dari pendidikan yang belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia.
Dari semua hal itu, bukan semata-mata karena takdir dan kemalasan dari generasi, melainkan ada hatu satu sistem yang menjadi dalang dari itu semua itu. Dipelopori oleh teorinya adam smith, tentang pasar bebas. Kapitalisme namanya. Dimana sistem ini merupakan suatu sistem yang segala sesuatunya bergantung pada modal.
Sistem inilah yang menjadi biangnya.
Sistem inilah yang menjadi biangnya.
Ketika pendidikan tidak mampu dijawab oleh negara, maka kemiskinanpun tak dapat terelakan lagi. Sebab, selai lapangan kerja yang minim, industri atau perusahan lebih memilih orang-orang yang berkompeten dengan lulusan sekolah/perguruan tinggi ternama. ditamabah lagi pada era MEA yang diresmikan pada akhir 2015 kemarin mengharuskan masyrakat Indonesia untuk bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara yang lebih maju, seperti China, Jepang, dan lain-lain.
Oh Indonesia....
Sungguh malang....
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kemiskinan, kelaparan yang terjadi hari ini bukan semata-mata takdir dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Melainkan ini adalah satu rencana yang memang sudah disusun dengan sengaja oleh penyelenggara negara yang bernaung dibawah mazhab kapitalisme.
HIDUP RAKYAT....!!!!