Jatuh cinta memang bukan pilihan kita. Tapi bangkit dari kejatuhan adalah keharusan. Kamu boleh terjatuh securam cinta menjatuhkanmu. Kamu boleh terpenjara sekuat cinta menawanmu. Kamu boleh tunduk serendah cinta menginjakmu. Kamu boleh ikhlas diperbudak cinta. Ketika kau dilukai pun kau berhak memaafkan. Kamu juga berhak bertahan ketika sekuat perpisahan menginginkan pergi. Kamu berhak mengemis demi cintamu yang maha kaya. Tapi bahagia juga hakmu. Kamu harus bangun dari kejatuhanmu ketika dia meninggalkanmu dalam jurang sendirian. Kamu harus terbang sejauh mungkin dari cinta yang menawanmu ketika penjara cinta ternyata hanya berisi kesedihan.
Kamu harus tegak setegak-tegaknya ketika injakan cinta hanya melukaimu. Kamu harus pandai menjahit lukamu ketika maafmu hanya disia-siakan. Kamu juga harus sadar diri ketika memilih bertahan sekuat tenaga namun dia nyatanya memilih yang lain.
Kamu harus tegak setegak-tegaknya ketika injakan cinta hanya melukaimu. Kamu harus pandai menjahit lukamu ketika maafmu hanya disia-siakan. Kamu juga harus sadar diri ketika memilih bertahan sekuat tenaga namun dia nyatanya memilih yang lain.
Dia yang membangun megah istana cinta di hatimu lalu menawanmu, menjatuhkanmu ke jurang paling curang, kemudian meninggalkanmu dan pergi dengan ratu barunya itu curang. Akhirnya kamu harus menanggung cinta sendirian atau walaupun dia mencintaimu juga toh dia lebih memilih yang lain itu pertanda bahwa cintamu tidak dia butuhkan lagi.
Herannya aku, mengapa kau masih merawat harapan yang kini kerontang itu? Kau siram harapan itu hari ini, esoknya dia patahkan lagi kuncup yang baru tumbuh itu. Dan kau ulangi menyiramnya lalu di patahkan lagi. Begitu-begitu saja. Saat dia memintamu memberi waktu untuk dia memutuskan tanpa kamu minta keputusan perihal hubungannya dengan orang lain, lalu dia memutuskan untuk bersama yang lain dan memilih meninggalkanmu, mengapa kau masih saja menaruh harapan?
Bukankah sudah terang segala tentang hubungan kalian? Maaf hubungan mereka maksudku. Dia sudah jauh dari dekapanmu. Dia sudah nyaman dengan pelukan lain. Lalu dengan gigih kau berucap "ah, itu cuma hubungan semu antara mereka, aku masih punya kesempatan." Lalu kau apa? Hanya sakitmu yang nyata!
Bukankah sudah terang segala tentang hubungan kalian? Maaf hubungan mereka maksudku. Dia sudah jauh dari dekapanmu. Dia sudah nyaman dengan pelukan lain. Lalu dengan gigih kau berucap "ah, itu cuma hubungan semu antara mereka, aku masih punya kesempatan." Lalu kau apa? Hanya sakitmu yang nyata!
Sudah waktunya pergi. Sudah waktunya membebaskan diri. Sudah waktunya terbang bebas. Sudah waktunya kamu menemukan cinta yang baru. Cinta yang mencintaimu juga.
Kamu tak perlu takut untuk bangkit dan berdiri. Kamu tak perlu takut melangkah. Kamu tak perlu takut menghadapi dunia. Aku tahu bagaimana luka menggerogotimu. Aku adalah orang yang paling siap memeluk lukamu. Mengeringkan lukamu. Kamu tidak perlu percaya begitu dini. Kamu hanya perlu mencoba. Tidak semua obat itu berasa manis, tapi yang pahit dapat menyembuhkan. Aku tidak menjanjikan sesuatu yang manis. Tapi sekuat jiwa dan raga segala lukamu akan aku balut dengan seluruh yang ada padaku. Aku bukan obat yang paten untuk membuatmu tiba-tiba sembuh. Tapi bersama waktu dalam gandengan tangan kita, kau akan kuat untuk melangkah, bahkan terbang tinggi sekalipun.
Kau hanya perlu mencoba membuka kembali hatimu yang patah itu. Kemudian memberikan aku kesempatan untuk aku merekatkannya. Akan kugadaikan seluruh napasku untuk menebus bahagiamu.
Tidak mengapa jika aku hanya mendapat bagian dari puing sisa kehancuran hatimu. Aku tidak perlu kamu yang semegah tertawa. Aku ingin membuatmu tertawa kembali seperti sebelum tertawan dia. Perlahan menunjukanmu bagaimana mentari memberi senyum hingga senja tunduk dan pamit. Menjadi pelita ketika malam membuatmu kalut dalam gulita hingga esok aku orang pertama yang bersedia mendengar mimpi-mimpi buruk ataupun mimpi baikmu.
Tidak ada yang megah padaku. Aku juga tak sanggup membangun istana cinta di dadamu. Tapi aku menyiapkan rumah yang ramah dan tempatmu teduh dari segala keluh hingga kau pulih dari segala kisahmu yang pilu. Dadaku juga siap menjadi tempatmu berdegub. Berdetak di setiap detikmu.
Aku bukan orang paling tahu perihal hubunganmu dengan dia. Bukan pula orang yang paling paham tentang lukamu. Tapi air matamu cukup jadi isyarat bahwa luka yang kau derita itu teramat. Aku juga bukan orang yang lebih baik dari dia yang paling kamu inginkan. Buka. Pula orang yang mampu menghadiahkanmu megahnya istana. Lebih-lebih aku orang yang paling tak pandai membuat luka. Bisaku hanya mengusap perlahan air mata di pipimu, merekatkan kembali patahan hatimu yang biru. Hanya itu bisaku. Dan aku tahu, kamu tak butuh istana itu untuk menyulam lukamu yang menganga. Kau butuh aku yang siap menjadi benang untuk kau jahit lukamu. Hanya itu. Kau saja yang rumit menerimanya.
Fhend_Bhabo
03 Januari 2020
Tepi laut selatan
