Selasa, 14 Agustus 2018

Pemuda Dalam Pengawalam Dana Desa

Seperti yang di ketahui, dana yang dikucurkan untuk pembangunan memiliki nilai yang fantasti, Rp. 1M bukanlah jumlah yang kecil. Dengan jumlah yang sebanyak itu, orang-orang berlomba menarik simpati masyarakat dalam suatu desa untuk memilihnya menjadi kepala desa dengan harapan dapat mengelola  uang dengan jumlah yang sangat besar tersebut. Tidak jarang pula yang berakhir di balik jeruji besi lantaran penyalahgunaan anggaran tersebut. Buktinya kurang lebih 900 ratus kepala desa tertangkap KPK lantaran penyelewengan dana desa (m.merdeka.com). Tidak bisa dipungkiri, uang menjadi Tuhan bagi sebagian orang.

Hal tersebut semakin menambah jumlah kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, membuat masyarak merasa gusar melihat keadaan yang carut marut tersebut.
Tidak hanya itu, pengelolaan anggaran dana desa kerap tidak tepat sasaran, banyak kepentingan pribadi yang lebih di utamakan dibanding kebutuhan masyarakat pada umumnya. Contoh kecilnya adalah pemberian bantuan yang semisalnya bedah rumah, sering kali pemerintah desa lebih mengutamakan keluarga yang lebih mampu, padahal masih ada yang kurang mampu hanya karena faktor kekeluargaan atau karena tidak faktor politik. Siapa yang memilihnya, dialah yang diutamakan.

Tak jarang pula kepala desa yang kaya mendadak ketika menjabat, padahal jika ditelusuri, gajinya jauh lebih kecil dari peningkatan kekayaannya, entah uang siluman darimana lalu akhirnya mendekap di balik jeruji.

Pengawalan kebijakan pengelolaan anggarana tidak hanya dapat dilihat dari pelaporan administrasi semata, sebab administrasi sangat mudah di manipulasi, sering kita jumpai laporang yang dibuat tak sesuai dengan realisasinya, pengawalan harus mengecek kondisi lapangan secara langsung. Pembangunan infrastrukur desa haruslah sesuai dengan besaran anggaran yang dikucurkan, jangan sampai banyak anggaran yang malah nyangkut di kantong-kantong pribadi orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Melihat hal tersebut, kaum muda tidak boleh hanya duduk berpangku tangan. Karena pemuda adala tonggak berdirinya suatu bangsa, maka dalam hal ini pemuda juga harus berperan aktif dalam mengawasi pengelolaan anggaran dana desa. Karena orang-renta yang selalu mengamini apa kata pemerintah tidak dapat diandalkan untuk mengawasi hal tersebut. Jiwa muda harus dibiasakan untuk berpikir kritis dalam mengawal pembangunan desa demi terwujudnya pembangunan yang memberikan kesejahteraan.

Mari belajar dan berdiskusi lalu berjuang.
Salam persatuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar