"Gadis bermata embun"
kicaun burung pada pohon cengkeh depan rumah panggung itu memaksa Endi untuk tersadar dari lelapnya, mentari yang menerobos masuk pada jendela rumah panggung itu pertanda hari baru telah dimulai.
Endi keluar dari kamar tidurnya lalu mendapati neneknya yang sedang menyiapkan telur dadar untuk menemani nasi goreng sarapan pagi. "Pagi nek, harum sekali dapur pagi ini" sambil mengucek matanya. "Eh kamu, sana cuci muka dulu, sarapannya bentar lagi siap nih" sambil membalik telur pada penggorengan diatas tungku kayu bakar khas pedesaan.
"Kamu lelap sekali semalam" kakek memulai obrolan sembari menyantap menu sarapan pagi, "iya kek, lelah sekali perjalanan semalam ditambah suasananya sangat dingin, nggak seperti di rumah yang pakai AC aja masih gerah".
"Kamu nggak mau ikut kakek petik rambutan ?" Tanya kakek setalah meminum segelas air putih. "Wah asyik itu kek, udah lama Endi nggak jalan-jalan ini" jawabnya dengan penuh kesenangan.
Kabut tipis menyelimuti jalan setapak menuju kebun rambutan sebelah desa, kicauan burung menamba syahdu pagi yang sejuk itu.
Sebagai orang yang baru kembali ke desa itu, tentu endi merasa asing dengan orang dan segala yang ada pada alam perbukitan itu. Dia memberikan senyum ramah kepada setiap orang yang ia lewati. Sampai pada pertengahan jalan tak sengaja matanya menemukan seorang gadis dalam balutan kebaya merah muda selutut turun dari tangga rumahnya membawa keranjang kecil. Hampir tak dapat diap palingkan muka darinya. Sungguh ayu langkahnya dengan gemulai jemari mengayun mengiringi langkah gadis itu, semilir angin pagi mengibaskan ujung kebaya. Hati siapa yang sanggup tak berdegup melihat pipi merona, rambut terurai sebahu, mata yang sebening embun pagi. "Tuhan, sungguh engkau maha pencipta, kau hadirkan makhluk sesempurna ini bumi-Mu, bagaimana mungkin aku tak sanggup bersujud dengan segala permohonan kepada-MU" gumamnya yang dalam hati"Eh kamu, lihat jalan, ntar kamu nabrak orang-orang yang jalan di depanmu" kakek membuyarkan lamunannya.
Seharian Endi membantu kakeknya memetik rambutan, sepanjang hari pula bayangan gadis bermata embun terbayang dalam pikirannya. Endipun memberanikan diri untuk menanyakan kepada kakeknya perihal gadis cantik itu, "uhm kek, yang tadi pagi dekat gang itu asli sini kek ?" "Yang mana ?" Kakek bertanya balik. "Itu gadis cantik yang pakai kebaya merah muda turun dari tangga rumahnya bawa keranjang kecil". "Mana ada? Sambil mengkerutkan dahinya, "mana ada gadis muda di sekitaran sini" jawaban yang membuatnya bingung.
Matahari mulai bergerak kedalam persembunyiannya, pertanda hari akan segera berganti malam. Keduanya beranjak pulang dengan memanggul keranjang berisi buah rambutan di punggungnya untuk dibawakan ke pasar buah esok pagi. Nenek menyambut dengan dua cangkir kopi dan kue kering di teras rumah.
Keesokan harinya, Endi ingin memperjelas rasa penasarannya pada gadis cantik yang bahkan kakeknya tak tau gadis mana yang dimaksud. Setelah meneguk secangkir teh untuk sarapan pagi, Endi berjalan disekitaran kampung berharap si mata embun itu keluar dari rumahnya.
Sampai di depan rumah yang kemarin, ia dapati gadis itu telah berjalan mengikuti gang menuju perkebunan, Endi berinisiatif mengikutinya, gadis itu lalu berhenti didepan sebuah rumah memandangi bunga angrek yang baru mekar pagi ini, Endipun berhenti, ketika gadis itu kembali berjalan, Endi terus mengikuti sampai ke kebun yang dituju gadis itu. Endi terus memperhatikan setiap gerak gadis yang memetik sayuran hingga dia pulang kembali. Hati bergetar kencang, namun tak ada nyali dalam dirinya walau hanya untuk mengajak berkenalan. Kembali gadis itu berhenti untuk memandangi bunga anggrek di depan rumah tetangganya lalu berjalan lagi, Terbesit dalam hati Endi untuk mengambilkan bunga itu untuk dipersembahkan kepada si cantik bermata embun itu, dan nasib baik sedang berpihak padanya. "Nak, bisa minta tolong untuk mengangkat meja di dapur?" Sahut pemilik bunga anggrek itu, "Oh tentu paman" jawabnya dengan senang hati. "Kamu orang baru disini rupanya" tanya paman setelah memindahkanmeja, "iya paman, cucunya kakek dahlan, kebetulan lagi libur sekalian jenguk kakek"
"Oh pantas baru lihat, terimakasih ya, mau makan dulu " paman itu menawarkan makan, "iya paman, sama-sama, kebetulan saya ingin sekali memetik setangkai angrek depan rumah paman" dia meminta anggrek yang terus dipandangi gadis tadi, "oh silakan dek, ini gunting"
Dia lalu kembali mengikuti gadis yang berjalan itu, "hai" dengan hati yang berdebar keras dia memberanikan diri mempersembahkan bunga di tangannya. "Sungguh kecantikanmu telah memikatku, aku ingin hatimu menjadi tempatku melabuhkan cinta ini" Endi merayu, "itu dibelakangmu ada yang lebih cantik dariku" Endi mengengol ke belakang namun tak menemukan siapapun, " andainya kamu memang serius kamu takkan mengengok ke belakang" kata gadis cantik bermata embun itu, lalu meninggalkan Endi dengam setangkai bunga.
Dengan langkah yang penuh Endi mengikutinya sampai ke suatu rumah yang gadis itu tuju, "salam, maaf paman, saya hendak menemui anak paman"
"Yang mana, kami hanya hidup berdua dengan istri di sini" "tidak mungkin paman, saya baru saja bertemu dengannya di jalan depan" "yang mana ? Masuk dulu, mungkin dia ada dalam foto ini" paman lalu menunjukan foto keluarga yang terdapat foto istri dan anak laki-laki serta anak perempuannya, "iya pama, ini dia yang saya temukan tadi" maaf dek, dia memang anak kami, tapi sayang, dia telah meninggalkan kami semua, dia kini menghadap sang pencipta di tempat peristrahatnnya tiga tahun lalu"
Endi kaget mendengar jawaban itu, tak disangka bulir air mata menyentuh pipinya..
Senin, 04 Desember 2017
Rabu, 22 November 2017
Mahasiswa zaman "now"
Menjadi seorang Mahasiswa adalah mimpi besar bagi putih abu. dengan segala nilai tawarnya, Mahasiswa menjadi salah satu pihak yang diperhitungkan dikalangan masyarakat. Bagaimana tidak, hampir semua sinetron menayangkan glamornya kehidupan menjadi seorang mahasiswa. Dalam balutan putih abu, aku sendiri sempat berpikir bahwa menjadi mahasiswa adalah satu kebanggaan. ditambah dengan dogma televisi yang mempertontonkan bahwa menjadi mahasiswa adalah satu kebanggaan besar. Setelah tiga tahun lamanya berjibaku dengan putih abau untuk menyulam mimpi menjadi seorang mahasiswa, akhirnya putih abupun lebpas dari rutinitasku. Statusku berubah, ada kata maha di balik kesiswaanku. satu mimpi telah tuhan wujudkan dalam bentuk nyata.
Namun, menjadi mhasiswa tak seperti yang ada dalam benak kebanyakan putih abu, dibalik gemerlapnya kota rantauan, ada tugas suci yang mesti ditunaikan oleh seorang yang bergelar mahasiswa. tugas pokoknya adalah sebagai agen perubahan dan agen pengontrol. Mahasiswa harus sadar diri sebagai soeorany yang tengah menempuh pendidikan tinggi, dia mempunya tugsa dan tanggun jawab besar dialik gelarnya sebagai amanah dari masyarakat yang tak mampu berada dalam posisisnya.
karena posisinya yang sangat strategis, yaitu dia antara pemerintah dengan rakyat, makai mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat yang harus memenjadi agen pelopor dalam memperjuangkan segenap hak rakyat yang belum juga diberikan oleh pemerintah, belajar untuk mengabdikan diri kepada masyarakat denan cara menggabungkan diri dengan organisasi yang berbicara bagaimana meperjuangkan kesejahteraan sosial, karena sesadar apapun seseorang ketika masih sendiri maka dia hanya akan menjadi pino yang tak mampu bergerak banyak, seperti halnya lidi, ketika yang digunakan hanya satu lidi, maka tak dapat dijadikan sapu, namun apabila lidi digabungkan dalam satu ikatan, maka sampah mana yang tak dapat dibersihkan.
Dibalik semua itu kita akan sadar bahwa seorang Mahasiswa memang mempunyai andil besar dalam kemajuan bangsa dan negara.
Namun, menjadi mhasiswa tak seperti yang ada dalam benak kebanyakan putih abu, dibalik gemerlapnya kota rantauan, ada tugas suci yang mesti ditunaikan oleh seorang yang bergelar mahasiswa. tugas pokoknya adalah sebagai agen perubahan dan agen pengontrol. Mahasiswa harus sadar diri sebagai soeorany yang tengah menempuh pendidikan tinggi, dia mempunya tugsa dan tanggun jawab besar dialik gelarnya sebagai amanah dari masyarakat yang tak mampu berada dalam posisisnya.
karena posisinya yang sangat strategis, yaitu dia antara pemerintah dengan rakyat, makai mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat yang harus memenjadi agen pelopor dalam memperjuangkan segenap hak rakyat yang belum juga diberikan oleh pemerintah, belajar untuk mengabdikan diri kepada masyarakat denan cara menggabungkan diri dengan organisasi yang berbicara bagaimana meperjuangkan kesejahteraan sosial, karena sesadar apapun seseorang ketika masih sendiri maka dia hanya akan menjadi pino yang tak mampu bergerak banyak, seperti halnya lidi, ketika yang digunakan hanya satu lidi, maka tak dapat dijadikan sapu, namun apabila lidi digabungkan dalam satu ikatan, maka sampah mana yang tak dapat dibersihkan.
Dibalik semua itu kita akan sadar bahwa seorang Mahasiswa memang mempunyai andil besar dalam kemajuan bangsa dan negara.
Minggu, 17 September 2017
Pendidikan dan kemisikinan
Pendidikan adalah sektor terdekat yng menjadi kebutuhan pokok bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pendidikan dianggap hal yang penting untuk melepaskan diri dari belenggu pembodohona dan kemiskinan. Maka tidak sedikit orang tua yang harus merelakan tanah, ternak, bahkan rumahnya dijual demi membiayai pendidikan anaknya. Sebab pendidikan yang semakin mahal tiap tahunnya. Mulai dari SD, SMP, SMA, apalagi Perguruan Tinggi (PT).
Namun disisi lain pemerintah seakan gelap mata melihat realita pendidikan yang semakin hari semakin mahal. Sektor pendidikan dijadikan lahan untuk berebut keuntungan bagi segelintir orang. Pemerintah melepas tanggung jawabnya melalui berbagai macam regulasi yang mengarakan pendidikan kepada sektor pasar semata, sehingga tidak ada lagi campur tangan negara dalam hal kenaikan biaya pendidikan.
Disatu sisi pemerataan pendidikan belum juga mampu terjawab hingga hari ini. Daerah pelosok masih harus meraskan belajar dalam ruangan yang sudah reok dan suatu waktu dapat runtuh, ditambah dengan ketersediaan buku belajar yang minim serta guru yang kurang.
Disatu sisi pemerataan pendidikan belum juga mampu terjawab hingga hari ini. Daerah pelosok masih harus meraskan belajar dalam ruangan yang sudah reok dan suatu waktu dapat runtuh, ditambah dengan ketersediaan buku belajar yang minim serta guru yang kurang.
Hal diatas jelas menjadi masalah besar dalam peningkatan mutu pendidikan Indonesia.
Sangat banyak anak Indonesia yang tidak dapat merasakan bagaimana duduk di bangku sekolah lantaran biayanya yang sangat mahal. Mulai dari beli seragam, uang komite atau spp.
Sangat banyak anak Indonesia yang tidak dapat merasakan bagaimana duduk di bangku sekolah lantaran biayanya yang sangat mahal. Mulai dari beli seragam, uang komite atau spp.
Jadi jangan heran jika banyak sekali muncul pergaulan bebas, bahkan sampai penggunaaan obat-obatan terlarang yang kerap terjadi pada generasi muda Indonesia, itu semua adalah imbas dari pendidikan yang belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia.
Dari semua hal itu, bukan semata-mata karena takdir dan kemalasan dari generasi, melainkan ada hatu satu sistem yang menjadi dalang dari itu semua itu. Dipelopori oleh teorinya adam smith, tentang pasar bebas. Kapitalisme namanya. Dimana sistem ini merupakan suatu sistem yang segala sesuatunya bergantung pada modal.
Sistem inilah yang menjadi biangnya.
Sistem inilah yang menjadi biangnya.
Ketika pendidikan tidak mampu dijawab oleh negara, maka kemiskinanpun tak dapat terelakan lagi. Sebab, selai lapangan kerja yang minim, industri atau perusahan lebih memilih orang-orang yang berkompeten dengan lulusan sekolah/perguruan tinggi ternama. ditamabah lagi pada era MEA yang diresmikan pada akhir 2015 kemarin mengharuskan masyrakat Indonesia untuk bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara yang lebih maju, seperti China, Jepang, dan lain-lain.
Oh Indonesia....
Sungguh malang....
Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kemiskinan, kelaparan yang terjadi hari ini bukan semata-mata takdir dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Melainkan ini adalah satu rencana yang memang sudah disusun dengan sengaja oleh penyelenggara negara yang bernaung dibawah mazhab kapitalisme.
HIDUP RAKYAT....!!!!
Jumat, 15 September 2017
Rintik Kenangan
Hujan membasahi jendela kamarku
Terdengar berirama
Berdenting bak senar bermelodi
Membuyarkan bayang tentangmu
Pekat senyummu lekat
Melayang bersama aroma kopi
Terbang dalam letupan asap tembakau
Mengusik rindu yang ingin berdamai
kata-kata mengoyak pikir
Namamu melelehkan tinta pada putih luka
menjamah ujung benak bermuara
Ya ! tepat setelah ruang ini kau tinggalkan
Aku mencarimu dalam setiap kata yang kukirim pada Tuhan
Tapi, tak ada rindu yang mampu menemukannya
Hanya luka yang mekar pada tangkai yang letih
Langganan:
Postingan (Atom)