Rabu, 07 November 2018

MERAWAT OPTIMISME KAUM MUDA. Mulai Dari Desa

MERAWAT OPTIMISME KAUM MUDA
Mulai Dari Desa  


Tulisan ini aku persembahkan untuk seluruh kawan-kawan pemuda Desa Bumi Pajo, Donggo, Bima. Semoga semangat perjuangan kita tetap terjaga dalam merawat Desa tercinta.




"Beri aku seratus orang tua, akan aku cabut semeru dari akar-akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, akan aku guncangkan dunia."
Begitu kiranya ukangkapan yang dilontarkan oleh sang orator ulung, Bung Karno, yang sanggup membuat merinding ketika membacanya kembali. Begitu penting peranan kaum muda dalam perkembangan dunia, jika dimaknai lebih dalam ungkapan di atas.

Sejarah panjang Bangsa Indonesia tidak lepas dari peran kaum muda, pertikaian dengan golongan tua yang berujung dengan penculikan Soekarno, atau dikenal dengan peristiwa rengasdengklok, menjadi awal berdirinya Bangsa Indonesia.

Perjalanan Bangsa terus dikawal oleh pemuda yang menyadari tanggungjawabnya sebagai agen bagi perubahan, yang melahirkan sejarah baru, penggulingan rezim tangan besi, si diktator bernama Soeharto yang kita kenal dengan gerakan revolusi. Berlandaskan leadaan Negara yang carut marut akibat Kolusi, Korupsi, Nepotisme, dan pelanggaran HAM terbesar di dunia, menjadikan akhir dari kekuasaan rezim tangan besi tersebut.

Sejarah di atas menjadi bukti, bahwa peran kaum muda layak diperhitungkan dalam membangun sebuah Bangsa, pemuda kekinian harus memiliki rasa malu terhadap sejarah yang pernah ada, sejarah tidak boleh dibiarkan hanya sebagai catatan usang dalam di museum-museum pustaka. Sejarah harus menjadi bahan pelajaran sekaligus memacu semangat agar semangat perjuangan sejarah dapat diwarisi oleh kaum muda. Kaum muda harus menanamkan rasa malu membiarkan kesewenangan yang terjadi. Sebaliknya gelora perjuangan harus tetap dikibarkan.

Tidak mesti menggulingkan rezim yang berkuasa layaknya pemuda 98, kita memulai dari bagian terkecil yaitu lingkungan sekitar. Desa, contohnya.

Fenomena kesewenangan terjadi bukan hanya di tataran tertinggi Negara, skala Desa saja sudah menjadi ladang empuk bagi kesewenangan penguasa, tidak perlu diurai panjang lebar kesewenangan-kesewenangan yang dilakukan, kita dapat melihatnya sendiri di Desa-Desa tempat kita hidup. Kasus korupsi Dana Desa yang menjerat ratusan kepala Desa menjadi bukti kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh penguasa. Selebihnya hal-hal normatif yang menyangkut hajat hidup masyarakat desa tidak pernah lepas dari kesewenangan-kesewenangan dan penyimpangan-penyimpangan pemerintah, khususnya pemerintah Desa.

Kaum muda tidak boleh diam dan manut melihat hal tersebut, fungsi sebagai pengontrol harus dijalankan sebagaimana mestinya, penyimpangan tidak boleh dibiarkan menjadi-jadi untuk menciptakan kehidupan sosial yang adil dan merata. 

Pengawalan terhadap seluruh kebijakan yang ditelurkan oleh pemerintah, contohnya program bedah rumah, pembibitan hewan, pembagian benih-benih pertanian, dan lain-lain yang menjadi kebijakan harus dijalankan secara intens agar tidak terjadinya penyelewangan, karena dalam setiap proyek, pasti ada saja yang ingin mengambil yamg bukan hak milik hanya untuk memenuhi hastrat kelayaan pribadi.

Pemuda yang merupakan pioner diharapkan dapat menjadi penyambung lidah bagi masyarakat, termasuk masyarakat Desa. Perstuan pemuda menjadi tumpuan kekuatan utama dalam pelaksanaan fungsinya, penyatuan persepsi terhadap hal-hal pokok yang sifatnya normatif adalah keharusan untuk mencapai tujuan bersama.
Ibarat lidi, jika hanya satu lidi, hanya dijadikan tusuk gigi, tapi jika digabung dalam satu ikatan, maka dia akan membersihkan sampah apapun. Begitulah analogi sederhananya. 

Harapan besar masyarakat, pemuda menjadi jembatan yang dapat menjadi penyampai sekaligus pejuang bagi segala keluh kesahnya.

Salam hormat untuk kaum muda..
Fhendy_Bhabo