Senin, 04 Desember 2017

"Gadis Bermata Embun"

"Gadis bermata embun"
 kicaun burung pada pohon cengkeh depan rumah panggung itu memaksa Endi untuk tersadar dari lelapnya, mentari yang menerobos masuk pada jendela  rumah panggung itu pertanda hari baru telah dimulai.

Endi keluar dari kamar tidurnya lalu mendapati neneknya yang sedang menyiapkan telur dadar untuk menemani nasi goreng sarapan pagi. "Pagi nek, harum sekali dapur pagi ini" sambil mengucek matanya. "Eh kamu, sana cuci muka dulu, sarapannya bentar lagi siap nih" sambil membalik telur pada penggorengan diatas tungku kayu bakar khas pedesaan.
"Kamu lelap sekali semalam" kakek memulai obrolan sembari menyantap menu sarapan pagi, "iya kek, lelah sekali perjalanan semalam ditambah suasananya sangat dingin, nggak seperti di rumah yang pakai AC aja masih gerah".
"Kamu nggak mau ikut kakek petik rambutan ?" Tanya kakek setalah meminum segelas air putih. "Wah asyik itu kek, udah lama Endi nggak jalan-jalan ini" jawabnya dengan penuh kesenangan.
Kabut tipis menyelimuti jalan setapak menuju kebun rambutan sebelah desa, kicauan burung menamba syahdu pagi yang sejuk itu.
Sebagai orang yang baru kembali ke desa itu, tentu endi merasa asing dengan orang dan segala yang ada pada alam perbukitan itu. Dia memberikan senyum ramah kepada setiap orang yang ia lewati. Sampai pada pertengahan jalan tak sengaja matanya menemukan seorang gadis dalam balutan kebaya merah muda selutut turun dari tangga rumahnya  membawa keranjang kecil. Hampir tak dapat diap palingkan muka darinya. Sungguh ayu langkahnya dengan gemulai jemari mengayun mengiringi langkah gadis itu, semilir angin pagi mengibaskan ujung kebaya. Hati siapa yang sanggup tak berdegup melihat pipi merona, rambut terurai sebahu, mata yang sebening embun pagi. "Tuhan, sungguh engkau maha pencipta, kau hadirkan makhluk sesempurna ini bumi-Mu, bagaimana mungkin aku tak sanggup bersujud dengan segala permohonan kepada-MU" gumamnya yang dalam hati"Eh kamu, lihat jalan, ntar kamu nabrak orang-orang yang jalan di depanmu" kakek membuyarkan lamunannya.
Seharian Endi membantu kakeknya memetik rambutan, sepanjang hari pula  bayangan gadis bermata embun terbayang dalam pikirannya. Endipun memberanikan diri untuk menanyakan kepada kakeknya perihal gadis cantik itu, "uhm kek, yang tadi pagi dekat gang itu asli sini kek ?" "Yang mana ?" Kakek bertanya balik. "Itu gadis cantik yang pakai kebaya merah muda turun dari tangga rumahnya bawa keranjang kecil". "Mana ada? Sambil mengkerutkan dahinya, "mana ada gadis muda di sekitaran sini" jawaban yang membuatnya bingung.

Matahari mulai bergerak kedalam persembunyiannya, pertanda hari akan segera berganti malam. Keduanya beranjak pulang dengan memanggul keranjang berisi buah rambutan di punggungnya untuk dibawakan ke pasar buah esok pagi. Nenek menyambut dengan dua cangkir kopi dan kue kering di teras rumah.

Keesokan harinya, Endi ingin memperjelas rasa penasarannya pada gadis cantik yang bahkan kakeknya tak tau gadis mana yang dimaksud. Setelah meneguk secangkir teh untuk sarapan pagi, Endi berjalan disekitaran kampung berharap si mata embun itu keluar dari rumahnya.
Sampai di depan rumah yang kemarin, ia dapati gadis itu telah berjalan mengikuti gang menuju perkebunan, Endi berinisiatif mengikutinya, gadis itu lalu berhenti didepan sebuah rumah memandangi bunga angrek yang baru mekar pagi ini, Endipun berhenti, ketika gadis itu kembali berjalan, Endi terus mengikuti sampai ke kebun yang dituju gadis itu. Endi terus memperhatikan setiap gerak gadis yang memetik sayuran hingga dia pulang kembali. Hati bergetar kencang, namun tak ada nyali dalam dirinya walau hanya untuk mengajak berkenalan. Kembali gadis itu berhenti untuk memandangi bunga anggrek di depan rumah tetangganya lalu berjalan lagi, Terbesit dalam hati Endi untuk mengambilkan bunga itu untuk dipersembahkan kepada si cantik bermata embun itu, dan nasib baik sedang berpihak padanya. "Nak, bisa minta tolong untuk mengangkat meja di dapur?" Sahut pemilik bunga anggrek itu, "Oh tentu paman" jawabnya dengan senang hati. "Kamu orang baru disini rupanya" tanya paman setelah memindahkanmeja, "iya paman, cucunya kakek dahlan, kebetulan lagi libur sekalian jenguk kakek"
"Oh pantas baru lihat, terimakasih ya, mau makan dulu " paman itu menawarkan makan, "iya paman, sama-sama, kebetulan saya ingin sekali memetik setangkai angrek depan rumah paman" dia meminta anggrek yang terus dipandangi gadis tadi, "oh silakan dek, ini gunting"
Dia lalu kembali mengikuti gadis yang berjalan itu, "hai" dengan hati yang berdebar keras dia memberanikan diri mempersembahkan bunga di tangannya. "Sungguh kecantikanmu telah memikatku, aku ingin hatimu menjadi tempatku melabuhkan cinta ini" Endi merayu, "itu dibelakangmu ada yang lebih cantik dariku" Endi mengengol ke belakang namun tak menemukan siapapun, " andainya kamu memang serius kamu takkan mengengok ke belakang" kata gadis cantik bermata embun itu, lalu meninggalkan Endi dengam setangkai bunga.
Dengan langkah yang penuh Endi mengikutinya sampai ke suatu rumah yang gadis itu tuju, "salam, maaf paman, saya hendak menemui anak paman"
"Yang mana, kami hanya hidup berdua dengan istri di sini" "tidak mungkin paman,   saya baru saja bertemu dengannya di jalan depan" "yang mana ? Masuk dulu, mungkin dia ada dalam foto ini" paman lalu menunjukan foto keluarga yang terdapat foto istri dan anak laki-laki serta anak perempuannya, "iya pama, ini dia yang saya temukan tadi" maaf dek, dia memang anak kami, tapi sayang, dia telah meninggalkan kami semua, dia kini menghadap sang pencipta di tempat peristrahatnnya tiga tahun lalu"

Endi kaget mendengar jawaban itu,  tak disangka bulir air mata menyentuh pipinya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar