Kita gagal menjaga marwah
Oleh; Anonimous
Bumi Pajo merupakan salah satu Desa di bagian barat Kecamatan Donggo. Desa di dataran tinggi itu dihuni oleh sekitar 3000 jiwa (keterangan lisan Kepdes). Mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani dengan komoditas utama Jagung.
Dari 3000 jiwa itu termasuk pemuda dan mahasiswa sebagai komposisi paling di sorot oleh masyarakat lain. Seperti yang diketahui bersama, bahwa mahasiswa adalah golongan masyarakat yang dianggap mampu menjadi perumus solusi bagi setiap masalah yang dihadapi oleh masyarakat Desa hingga persoalan Negara. Terlepas dari jurusan dan prodi yang didalami.
Di Desa Bumi Pajo, mahasiswa dapat dikenal dengan mudah, baik dari penampilan maupun sikap. Mahasiswa dianggap memiliki strata sosial lebih tinggi di atas masyarakat lain dengan pendidikan yang ditempuhnya. Sekali lagi, masyarakat tidak pernah memandang latar belakang jurusan ataupun prodi yang diambil di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Yang dipandang dari mahasiswa adalah keluasan wawasan dan kedalaman berpikir terhadap segala aspek yang berkaitan dengan masyarakat. Baik dari segi sosial lebih-lebih persoalan agama.
Mahasiswa juga dianggap sebagai guru bagi adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah.
Oke, kita mulai ceritranya.
Pandemi covid-19 yang menyerang hampir seluruh wilayah di Indonesia membatasi ruang-ruang publik dan memulangkan mahasiswa Bumi Pajo dari rantauannya, para mahasiswa tersebut merantau di daerah-daerah yang merupakan zona merah covid-19. Contohnya Mataram dan Makasar.
Sayang sekali, mahasiswa pulang tanpa ide cemerlang dalam menangani covid-19 di Desa Bumi Pajo, justru sebaliknya, mahasiswa datang dengan membawa ancaman bagi masyarakat desa. Ya, ancaman bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Tidak ada yang tahu pasti apakah mereka terbebas dari paparan covid-19 atau tidak. Bahkan instruksi pemerintah untuk melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing selam 14 hari tidak diindahkan oleh sebagian besar mahasiswa yang pulang dari rantauannya, meski sudah sering kali diberikan himbauan melalui toa-toa masjid, didatangi ke rumahnya langsung, ataupun dengan cara-cara lainnya.
Alasannya sederhana, terlalu percaya diri bahwa dirinya baik-baik saja, padahal dia sadar diri dia pulang karena ketakutan terpapar covid di zona merah itu.
Selanjutnya, kita, mahasiswa dan pemuda tidak mampu, lebih tepatnya tidak ada usaha sedikitpun untu memberikan kontribusi nyata dalam melawan covid-19 di Desa Bumi Pajo selain saran-saran yang terkadang hanya dianggap ocehan oleh pemerintah Desa melalui sosial media yang tidak semuanya terbaca juga oleh pemimpin Desa Bumi Pajo. Oke, sarannya bisa saja menjadi pemantik untuk pemdes dalam memulai gerakan pencegahan covid-19 di Desa Bumi Pajo. Tapi sekali lagi, kita hanya mampu sebatas saran ! Tidak lebih.
Satu sisi, Pemerintah Desa Bumi Pajo juga terlalu percaya diri akan kemampuannya mencegah masuknya covid-19 di Desa Bumi Pajo dengan satgas yang dibentuk secara garis besar seluruh jajaran pemerintah Desa sendiri tanpa melibatkan pemuda secara kelembagaan. Padahal Desa Bumi Pajo Jelas memiliki lembaga mitra seperti karang taruna.
Pemerintah dan pemuda tidak sedang memperlihatkan diri sebagai mitra dalam membangun Desa Bumi Pajo. Jelas dari sini bahwa budaya gotong royong masyarakat pedesaan tidak mampu ditunjukan oleh pemerintah maupun pemuda, tak terlepas mahasiswanya. Kita semua.
Apakah ini semua karena persoalan anggaran yang puluhan juta ? Wallahualam.
Terakhir, di Bulan Ramadhan yang biasanya selalu ramai dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa meningkatkan keimanan dan meningkatkan wawasan keagamaan, tidak tampak pada Ramadhan kali ini. Ramadhan kali ini seakan tidak ada mahasiswa yang pulang dari rantauannya. Organisasi-organisasi kedaerahan yang punya nama besar, juga tidak mampu memberikan kontribusi apa-apa. Apa alasannya karena corona? Toh tarawih, kegiatan bertani, kegiatan-kegiatan lainnya juga tidak lepas dari berkerumun bukan ?
Lalu kita, pemuda dan mahasiswa Bumi Pajo mau bangga dengan apa, gaya, pakaian, motor bagus, atau hal-hal tak guna lainnya untuk sosial kemasyarakatan?
Silakan dipikirkan sama-sama.
Tulisan ini diniatkan untuk menjadi pemantik agar kita bisa merefleksikan atau menginstrospeksi diri masing-masing, terutama penulis, sebagai pemuda dan mahasiswa Bumi Pajo, yang katanya masa depan Desa ini ada di tangan kita.
Tidak ada unsur menyalahkan siapapun.
Syukur-syukur jika sampai menjadi bacaan pemerintah desa.
Ditulis mulai pada tanggal 26 April s/d 01 Mei 2020
Tulisan mantul, inti sarinya dapat Tujuannya tersampaikan.
BalasHapusNtoira pala Tuntike ampode na nggori tepat di angka 5 hehehe.
teruslah berkarya jadilah pengerak menuju kesuksesan di masa mendatang.